Home > Publication > Feature > Winter 101: Berdamai dengan Dingin Minnesota

Winter 101: Berdamai dengan Dingin Minnesota

A : “How can you survive in the super cold state as Minnesota?”
B : “It’s simple. I wear Jacket.”

Pertanyaan diatas, adalah pertanyaan klasik tentang Minnesota, pertanyaan tentang bagaimana saya bisa bertahan hidup di Minnesota. Beberapa teman memang ‘mempertanyakan’ kenapa saya ‘nekat’ kuliah di Minnesota, sebuah tempat yang iklimnya 180 derajat berbeda dengan Indonesia.

Minnesota sendiri bukanlah tempat populer untuk mahasiswa Indonesia. Hanya segelintir saja yang ‘berani’ melamar ke Minnesota.
Tahun 2015, mahasiswa s-1 hanya berada dikisaran angka 30 atau 40 Mahasiswa pascasarjananya lebih sedikit lagi; 4 orang magister dan 1 orang doktoral.

Meski menjadi rumah bagi sebuah kampus dengan reputasi mumpuni bernama University of Minnesota (UofM), Cuaca yang super dingin tampaknya mempengaruhi minat mahasiswa Indonesia berkuliah di UofM, kampus yang juga merupakan almamater pakar hukum terkemuka Indonesia, Denny Indrayana.

Musim Dingin yang Panjang

Walau tidak sedingin Winterfell, sebuah kota imaginer dalam serial populer HBO “Game of Thrones”, Minnesota memang identik dengan udara dingin yang menusuk dan salju yang melimpah. Musim dingin Minnesota juga lebih awet dibandingkan Negara bagian lainnya. Tahun lalu, saya merasakan ‘nikmatnya’ udara dingin selama kurang lebih 6 bulan dimulai dari November hingga April.

Kisaran suhu musim dingin juga fantastis. Selama enam bulan tersebut, cuaca selalu di bawah suhu 0 derajat celcius. Titik dingin paling parah terjadi di bulan Januari dimana udara menyentuh angka -30 derajat celcius. Saking dinginnya, sungai mississippi yang besarnya 4 atau 5 kali ukuran sungai ciliwung dibuat tak berdaya dan membeku hebat. Ribuan danau pun tak luput dari sergapan dingin dan ikutan membeku.

Minnesota memang dikenal sebagai negeri 10,000 danau, ‘the state of 10,000 lakes’. Bisa dibayangkan, betapa dinginnya udara Minnesota ketika danau yang jumlahnya 10,000 itu membeku secara hampir bersamaan ketika musim dingin memeluk Minnesota. Saking bekunya, orang-orang bahkan sampai berani untuk bersepeda dan beraktivitas diatas danau yang membeku tersebut.

Berdamai dengan Rasa Dingin

Menjadi orang Indonesia di Minnesota memang tidak mudah. Berdamai dan belajar menikmati dingin Minnesota adalah PR pertama yang harus dituntaskan. Sebagai manusia yang 30 tahun tinggal dengan asupan matahari yang cukup, udara yang hangat dan iklim tropis, membayangkan dingin yang sungguh ektrim ini saja sungguh tidak enak.

We are prone to anxiety. Kekhawatiran seringkali berjalan beriringan dengan pengalaman baru. Istilah itu tepat menggambarkan pengalaman ‘berdamai’ dengan cuaca super dingin. Kehidupan musim dingin Minnesota tampak tidak asik. Kenyataannya, suasana musim dingin ternyata tak seburuk yang imajinasikan.

Bayangan saya tentang hari yang gelap dan suram selama musim dingin ternyata salah. Yang ada justru sebaliknya. Langit musim dingin ternyata indah dan memukau. Awan seperti enggan menghampiri langit Minnesota selama musim dingin. Langit yang super biru itu seperti menjadi hiburan tersendiri untuk melupakan rasa dingin yang sangat mendominasi.

Selama musim dingin, berpakaian ektra tebal adalah kewajiban. Jaket tebal, sarung tangan, sepatu khusus, penutup telinga dan syal tebal adalah benda wajib yang harus selalu melekat setiap saat. Baju dan Jaket musim dingin yang saya bawa dari Indonesia ternyata tidak sanggup menahan udara dingin disini. Alhasil, saya harus membeli seluruh perlengkapan musim dingin disini.

Tapi jangan khawatir dengan harga baju musim dingin yang mahal. Salah satu rahasia besar Amerika adalah banyaknya Thrift Store atau toko-toko yang menjual baju bekas dengan harga murah dan berkualitas tinggi. Goodwill, Savers, Salvation Army adalah beberapa contoh Thrift Store yang banyak menjamur di Minnesota. Kehadiran mereka adalah berkah bagi mahasiswa berkantong tipis seperti saya.

Kuliah di Musim Dingin

Selama musim dingin, aktifitas kuliah berjalan normal dan tampak tidak terpengaruh musim dingin yang panjang. Jangan harapkan kuliah terhenti selama musim dingin. Fasilitas dan infrastruktur kampus memang sudah dipersiapkan untuk kondisi yang demikian.

Di University of Minnesota, seluruh gedung dilengkapi dengan jalan bawah tanah atau yang dilebih dikenal dengan ‘Gopher Way’ dan saling terkoneksi. Jalan tersebut sengaja didesain agar mahasiswa tetap beraktifitas normal selama musim dingin. Hasilnya, kampus tampak sepi dari permukaan karena aktifitas banyak dilakukan di dalam ruangan dan di bawah tanah.

Pernah suatu kali, udara mencapai -22 dan badai salju yang ringan menghampiri. Kampus hanya memperingatkan mahasiswa untuk mempersiapkan diri tapi tidak menghentikan aktifitas perkuliahan. Saat itu, saya seperti menembus badai untuk menuju ruang kelas dari kos-kosan. Jarak pandang terganggu, salju bertiup kencang dan bus-bus kampus berjalan perlahan.

Bagi beberapa teman yang berasal dari luar Minnesota, perkuliahan yang tetap berjalan ini tampak tidak biasa. Musim dingin memang tidak hanya tentang udara dingin. Sisa-sisa salju yang turun yang justru lebih berbahaya. Jalanan menjadi licin dan tampak kumuh. ‘Black ice’ atau sisa salju yang tidak tampak adalah momok paling ditakuti selama musim dingin. Orang-orang menjadi sangat berhati-hati ketika melewati ‘black ice’ ini. Salah-salah melangkah, badan bisa tumbang dan berakibat fatal.

Di texas, Negara bagian yang udaranya mirip Indonesia, perkuliahan bisa dihentikan ketika salju turun terus menerus. Alasannya, demi keselamatan mahasiswa. Saya jamin Minnesota tidak akan pernah menghentikan perkuliahan karena alasan serupa. Minnesota memang tampaknya sudah sangat terlatih untuk hidup di Musim dingin. We were born to love the winter.

Banyak Minum dan Sediakan Bandrek

Hal paling penting untuk diperhatikan selama musim dingin adalah menjaga asupan cairan ke dalam tubuh. Udara dingin memang tidak membuat tubuh merasakan haus. Padahal, minum yang banyak sangat penting ketika suhu dingin menyergap. Badan bisa KO dan dehidrasi jika asupan cairan berkurang.

Musim dingin pertama saya juga banyak terbantu oleh minuman khas Indonesia bernama Bandrek. Ini bukan promosi, tapi ramuan tradisional yang terkandung dalam bandrek ternyata mampu membuat badan menjadi hangat dan bertenaga.

Informasi tentang Bandrek dan musim dingin ini saya dapatkan dari seorang teman asal Michigan yang pernah lama tinggal di Jakarta. Setiap kali dia pulang ke Amerika, dia tak lupa memboyong bandrek untuk menghangatkan musim yang dingin. Menurut teman tersebut, bandrek terbukti mampu menghangatkan badan tanpa perlu repot-repot meminum minuman beralkohol layaknya kebiasaan orang Amerika pada umumnya.

Puluhan bandrek pun saya bawa untuk menghadapi dua musim dingin yang akan saya nikmati selama selama dua tahun masa perkuliahan saya di Minnesota.

Adaptasi itu hal utama

Hal yang membantu saya untuk ‘menikmati’ udara super dingin adalah waktu adaptasi yang cukup. Saya tiba di Amerika bulan agustus ketika masih musim gugur. Sementara musim dingin baru datang bulan November. Waktu tiga bulan sudah sangat cukup untuk melakukan berbagai penyesuaian dan persiapan menghadapi musim gugur.

Beberapa teman yang mengalami adaptasi yang kurang baik biasanya karena mereka datang pada bulan Desember atau Januari, waktu dimana udara sedang sangat dingin. Tak heran, kampus sangat tidak merekomendasikan teman-teman dari daerah tropis untuk memulai kuliah pada bulan Januari. Proses adaptasi akan sangat sulit dan tidak asik.

Pengalaman menikmati musim dingin yang ekstrim ini mengajarkan saya satu hal penting: tubuh kita memang didesain untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Berbagai ketakutan saya sebelum memasuki musim dingin ternyata tidak terbukti. Musim dingin tak ubahnya seperti musim-musim lainnya. Bedanya, saya menggunakan pakaian lebih banyak, minum lebih banyak, dan beraktifitas di dalam lebih banyak.

Wallahu A’lam.

Wendi Wijarwadi
Alumni Pesantren Cipasung
Mahasiswa Magister Pendidikan,
Department of Organization, Leadership, and Policy Development,
College of Education and Human Development,
University of Minnesota Twin Cities (UMTC)

MataAir-Red: Wachid Ervanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *