Home > Art & Music > Saat Doktor Sosiologi UGM Taklukan Kota New Castle Dengan Musik Glam Rock

Saat Doktor Sosiologi UGM Taklukan Kota New Castle Dengan Musik Glam Rock

New Castle, MataAir.tv- Namanya Oki Rahadianto, dikenali dengan mudah dengan rambut keriting gondrong yang khas. Sosok pria satu ini sebenarnya adalah sosiolog dari Universitas Gadjah Mada. Ia sedang studi S3 di Universitas Newcastle, Australia.

Kini, gelar doktor sudah di tangan. Di balik gelar PhD-nya, pria ini memiliki “rahasia” penampilan nyentrik di panggung: platform boots dengan ciri khas sepatu dengan hak tinggi, make up, dan dan lipstick!”

“Saya juga harus menciptakan karakter androgynous di panggung dan mengadaptasikan style bermain bassnya menjadi lebih nge-glam,” kata Oki.

Ya, di balik gelar doktornya, Oki adalah pemain bas sebuah band beraliran glam rock. Menurut Wikipedia, glam rock atau rock glamor (glitter rock) adalah subgenre musik rock pasca-hippi asal Britania Raya pada awal tahun 1970-an.

Penyanyi dan pemusiknya memakai pakaian, rias wajah, dan model rambut yang serba gemerlap, serta mengenakan sepatu bot berhak tinggi. Ciri khas rock glamor adalah lirik lagu yang memakai bahasa berbunga-bunga yang diiringi permainan gitar hard rock. Kostum yang bersifat teatrikal mengambil ide dari film fiksi sains atau film-film lama.

Selain mengejar gelar doktor di Universitas Newcastle, Australia, Oki Rahadianto juga menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan musik di sana. Perjalananan musik dosen muda UGM Yogyakarta ini digambarkan oleh Jane Ahlstrand dalam tulisan berikut.

Dengan ciri khas gaya rambut afro, sosok Oki Rahadianto justru menarik perhatian. Sebagai seorang pria asal Solo yang sekarang menetap di kota Newcastle, Australia, Oki mempunyai kisah hidup yang penuh dengan petualangan di bidang musik.

Pada tahun 2013, Oki pindah ke Newcastle untuk pertama kalinya dan menjalani kehidupan baru sebagai mahasiswa di Universitas Newcastle.

Sebagai penerima beasiswa S3 jurusan Sosiologi, Oki menulis mengenai transisi musisi muda dari Indonesia sambil mencari banyak pengalaman di ranah musik di Newcastle.

Tahun 2016 ini Oki baru dianugerahi gelar Doktor. “Sebelumnya saya tidak banyak tahu tentang Newcastle,” kata Oki yang juga lulusan Cumlaude dari UGM.

Ternyata kota Newcastle merupakan jodoh untuk seorang pencinta musik seperti dia. “Menurut saya, ranah musik di Newcastle cukup dinamis menurut porsi dan karakteristiknya masing-masing,” kata Oki.

“Sejak minggu pertama pindah ke Newcastle saya sudah mulai explore pub-pub. Kadang dengan local housemates tapi seringnya sendirian,” jelas Oki.

“Dari situ saya mulai kenal banyak orang dan mereka tahu kalau saya musisi,” katanya. Oki sudah pernah berpartisipati dalam bermacam-macam jenis band di Newcastle, dari musik daerah sampai glam rock.

Band pertama yang mengajak Oki bernama Smozzle Tov, memainkan musik klezmer, semacam musik tradisional Yahudi dari Eropa Timur.

“Gig pertama dengan band itu adalah di komunitas yang bertransaksi dengan sistem barter, pokoknya tidak menggunakan uang dan kami dibayar sayur-sayuran,” kata Oki sambil tertawa.

Dengan Smozzle Tov, Oki sempat bermain di berbagai event yang berkaitan dengan multikulturasime, unity in diversity, gerakan lingkungan, dan anti-rasisme.

Mereka juga berkolaborasi dengan banyak musisi dari Afrika dan Asia. Selain itu Oki juga sempat bermain dengan band beraliran blues bernama The Masked Man yang menggunakan unsur teater untuk menghibur para penonton.

Salah satu pengalaman yang berkesan untuk Oki adalah berkolaborasi di album “The Temporal Lope” dari penyanyi perempuan yang sangat berbakat bernama Helena Kitley.

“Secara pribadi, saya sangat senang dengan output dari album itu dan juga peluncuran albumnya juga sukses,” kata Oki.

Selain itu, Oki juga berpartisipasi dalamshooting musik videonya. “Sangat seru karena kami harus hujan-hujanan di malam hari dan pada saat itu sedang musimwinter. Keesokan harinya saya langsung beli vitamin C,” cerita Oki sambil tertawa.

Di Newcastle, Oki juga berusaha untuk memperluas wawasan masyarakat Australia tentang Indonesia melalui kegiatan musiknya.

“Saya sempat membuat project musik bernama Newyndo. Ini singkatan dari Newcastle-Indonesia. Ide saya waktu itu adalah membangun komunikasi antara Indonesia dan Newcastle khususnya,” jelas Oki yang mengakui terkadang pusing saat ngobrol dengan warga Newcastle yang tahunya hanya Bali.

“Bahkan pernah ada yang ngomong ke saya: Oh saya pernah ke Bali tapi belum pernah ke Indonesia!” imbuhnya.

Dengan band Newyndo itu, Oki berkolaborasi dengan Efendi Jaenudin, musisi yang mahir memainkan gamelan Sunda; Saichu Anwar, seorang vokalis dan gitaris dari Bali; dan Diane Lenham dari Newcastle yang memainkan saxophone.

“Kami sempat main beberapa kali di festival-festival, universitas, dan afternoon session di salah satu pub di kota,” jelasnya.

Bergabung dengan Glam Slam

Oki paling terkenal di Newcastle sebagai pemain bass dengan band glam rock, Glam Slam, yang tampil konsisten hampir setiap akhir pekan di pub-pub di Newcastle. Glam Slam sering sekali masuk dalam lima pertunjukkan top (top five gigs) di salah satu situs hiburan di Newcastle.

Namun Oki tidak langsung bergabung dengan band itu. “Glam Slam adalah salah satu band yang sering saya saksikan penampilannya di The Wickham Park Hotel,” kata Oki.

Sejak pertama menyaksikan Glam Slam, Oki langsung nge-fans. “Mereka tampil dengan kostum yang seru dan kualitas musisinya juga bagus. Saya kenalan aja sama mereka saat break main. Selanjutnya saya sering datang ke show band itu.”

Kesempatan datang waktu Oki dikontak oleh gitaris Dave Forbes saat mereka mencari bassist. Dengan senang hati Oki mengiyakan.

Proses bergabung dengan mereka berlangsung sangat cepat dan lancar. “Mereka kirim playlists sekitar 40 lagu dan jadwal main selama 6 bulan ke depan,” kata Oki.

Karena Glam Slam adalah covers band, Oki memainkan lagu-lagu dari Queen, Bowie, The Sweet, Cheap Tricks, dan juga Skyhooks dari Australia.

Yang menjadi tantangan bagi Oki saat tampil dengan Glam Slam adalah kewajiban memakai kostum dan berdandan dengan karakter androgynous.

“Itu salah satu spirit dari era glam rock,” jelasnya. “Selain itu, saya harus memakaiplatform boots, make up, dan lipstick!” Oki yang tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi harus berlatih berjalan denganplatform boots selama beberapa hari.

“Saya juga harus menciptakan karakterandrogynous di panggung dan mengadaptasikan style bermain bassnya menjadi lebih nge-glam,” imbuhnya.

Ke depannya, Oki ingin tetap menjadi musisi dan sosiolog. “Sampai akhir usia,” katanya.

Bagi Oki, sukses itu relatif. “Untuk konteks Indonesia yang tidak ada sistem tunjangan sosial (welfare), menurut saya sukses itu ya, saat bisa membantu orangtua membayar biaya berobat di rumah sakit yang sangat mahal itu atau membantu keluarga besar yang tidak mampu membayar biaya sekolah,” jelas Oki sambil merenung.

“Secara sederhana, buat saya sukses itu ya saat kita bisa berbagi dengan sesama,” imbuhnya. Oki mengucapkan perasaan bangga kepada kedua orangtuanya yang telah mendukungnya selama ini.

“Saya kagum dengan Ibu saya, sosok Ibu yang sangat tangguh, baik hati dan pekerja keras,” kata Oki.

Dengan gelar doktor, platform boots, dan baik hati, sudah pastilah perjalanan hidup Oki Rahadianto akan semakin sukses, walaupun sukses itu memang relatif. (Jane Ahlstrand**)

* Tulisan ini adalah versi bahasa Indonesia dari artikel dalam bahasa Inggris di blogJembatan sebuah blog yang menghubungkan Indonesia dan Australia melalui kesenian.