Home > News > Peran Pemuda Dan Politik

Peran Pemuda Dan Politik

Oleh: Hasyim Habiby

Pemuda tidak boleh apatis, prinsip ini harus berlaku dalam berbagai ranah tak terkecuali dalam politik. Semangat ini harus terus dipupuk karena perubahan bangsa Indonesia dalam cacatan sejarah sering kali diinisiasi oleh pemuda. Mulai berdirinya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908 yang merupakan tonggak awal peran pemuda dalam mengawal perubahan bangsa Indonesia, hingga peran itu kembali dipersembahan pemuda melalui pergerakan mahasiswa pada reformasi tahun 1998 yang menjadikan Indonesia sebagai negara demokrasi.

Oleh karenanya dalam mengawal demokrasi tersebut peran pemuda sangat penting khususnya dalam setiap agenda pemilihan baik daerah maupun pemilihan presiden. Dalam hal ini pemuda secara praktis dapat turut mensosialisasikan agenda pemilihan, mengenal, memahami visi dan misi calon pemimpin hingga mengawal kepemimpinannya. Walaupun hal yang tak kalah penting adalah menjadi influencer dalam komunitasnya masing-masing agar berdampak nyata.

Sekali lagi peran ini harus terus menyala karena fenomena yang ada perpolitikan bangsa sangat miris. Dewasa ini partai politik telah mengalami disfungsinya sebagai parpol. Disfungsi yang fundamental misalnya adalah kegagalan partai politik dalam menjalankan peran kaderisasi. Efeknya adalah banyak partai politik yang tidak lagi percaya diri mencalonkan kadernya untuk mengikuti kontes pemilihan umum. Banyaknya selebritis yang dicalonkan oleh partai politik menjadi kepala daerah misalnya dapat diinterpretasikan bahwa orientasi partai politik dalam mengajukan pemimpin untuk sebuah daerah bukan berdasarkan kompetensi melainkan selebritisasi calon untuk meraih kemenangan.

Disfungsi partai politik selanjutnya adalah komunikasi internal yang kurang efektif. Efeknya adalah munculnya konflik internal partai yang kemudian muncul hingga ruang publik. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pandangan masyarakat terhadap citra partai politik. Bahkan terkadang perseteruan antar kubu ditontonkan di ruang publik seperti media massa. Tentu praktik semacam ini sama sekali mengandung edukasi bagi masyarakat luas.

Menyambut pemilihan kepala daerah yang akan dilaksanakan tahun depan pemuda tidak boleh apatis. Mulai dari mengawal kampanye para calon dengan mencatat janji-janji yang disampaikan, mengenali track record hingga etika kampanye yang terkadang jauh dari cerminan ideal seorang pemimpin. Semua peran tersebut kemudian disempurnakan dengan berpartisipasi memilihan calon pemimpin saat waktu pencoblosan tidak.
MataAir-Red: Wachid Ervanto