Home > Publication > Feature > Pendidikan Islam Perlu Direformasi

Pendidikan Islam Perlu Direformasi

Jakarta, MataAir.tv-Pendidikan Islam perlu direformasi. Dibutuhkan sejumlah langkah strategis untuk mereformasi pendidikan Islam agar menuju ke arah yang lebih baik agar sesuai dengan kebutuhan bangsa saat ini.

Dengan jumlah siswa mencapai 20 persen atau sekitar 13.4 juta siswa dari total peserta didik, pendidikan Islam memberi kontribusi signifikan pada dunia pendidikan di Indonesia. Namun, kegiatan belajar mengajar yang diterapkan di SD/MI saat ini, yang lebih menekankan pada beragam teori, dianggap sudah kurang relevan.

Pandangan tersebut mengemuka pada diskusi dan peluncuran studi-studi Kementerian Agama tentang pendidikan Islam di Indonesia dan pengembangan kapasitas dan analisis sektor pendidikan, di Auditorium Kementerian Agama RI. Pada acara tersebut, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin menuturkan, Kemenag terus menggagas dan turut mengambil keputusan dalam menentukan arah reformasi tersebut.

Sebagai langkah awal, Kemenag melalui Direktorar Jenderal Pendidikan Islam menghimpun basis data dan informasi yang berasal dari studi empirik. Studi emprik tersebut di antaranya terkait studi seputar pendanaan madrasah, penanaman nilai-nilai budaya damai dalam pelajaran agama Islam dan metode pembelajaran.

“Memang sengaja lebih menekankan bagaimana pendidikan agama Islam itu pada subtansi dan esensi ajaran Islam itu sendiri. Seperti kedamaian. Itu semakin diperlukan karena sekarang ini kan kompetisi hidup semakin keras semakin tajam. Apalagi, realitas bangsa Indonesia ini kan majemuk dan berbeda-beda,” ujar Lukman.

Ia mengakui, mereformasi metoda kegiatan belajar mengajar pendidikan Islam tidak mudah. Pasalnya, harus dibarengi dengan kualitas guru dan sarana pendidikan yang menunjang. Ia menyatakan, infrastruktur SD/MI di Indonesia belum merata. Masih banyak sekolah yang bangunannya memprihatinkan.

“Prinsipnya metoda itu dinamis, jadi kami sesuaikan dengan cara-cara yang lebih menarik. Lebih mengundang peran serta peserta didik sehingga proses belajar mengajar itu tidak menjemukan. Belajar itu harus menyenangkan, itu prinsip dasarnya. Tanpa menghilangkan esensi dan substansi dari materi-materi pelajaran itu sendiri,” katanya.***

Pikiran Rakyat (Dhita Seftiawan)