Home > Publication > Feature > Merantaulah dan Raih Mimpimu

Merantaulah dan Raih Mimpimu

“Merantaulah. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Pergilah. ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman.

Merantaulah. Singa tak ‘kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur, tak ‘kan kena sasaran.”

-Imam Syafii-

Kalimat tersebut adalah kutipan syair populer dari Imam Syafii.  Saya mengutip syair tersebut karena sebuah alasan: syair itu istimewa dan bersejarah. Tahun 2000 silam, saya pertama kalinya berkenalan dengan syair tersebut. Hebat dan menggugah semangat. Hari itu adalah adalah minggu pertama saya bermukim di Pondok Pesantren Cipasung, terpisah jarak ratusan kilo meter dari kampus halaman tercinta di Cianjur. Suasana kangen rumah dan tetesan air mata masih sesekali datang. Hingga suatu hari, seorang santri senior membawakan sebuah majalah yang berisi syair tersebut. Untaian kata yang indah seolah memberikan asupan gizi untuk bisa melalui cobaan pertama khas sebagai santri baru; rasa kangen orang tua dan kerabat.

Ketika pada akhirnya nasib kembali membawa saya untuk kembali merantau, syair itu (kembali) menjadi pengingat dan penyemangat kenapa saya memilih untuk (kembali) merantau. Bedanya, perantauan kali ini terasa sangat istimewa sekaligus menantang, terbentang jarak ribuan mil dari keluarga, kerabat dan sahabat untuk memujudkan mimpi masa kecil; menjejakkan kaki di tanah Amerika.

Memberanikan diri untuk ‘Bermimpi’

Amerika Serikat adalah Negara impian untuk melanjutkan pendidikan. Bukan karena demi mengejar gengsi atau kebanggan pribadi, bukan pula karena merendahkan kualitas pendidikan di dalam negeri. Bukan, sama sekali bukan itu. Saya percaya, jika saya berani mimpi, saya harus berani bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Selain itu, bukankah Tuhan sudah menyeru hamba-Nya untuk bertebaran ke muka bumi dan saling berkenalan? Amerika Serikat tentu menjadi tempat ideal untuk itu. Nyaris semua suku bangsa di Dunia tumpah ruah di Negara para penguasa tersebut.

Hal paling pertama yang membuat saya berani untuk ‘bermimpi’, berani berimajinasi adalah ucapan epik seorang dosen muda di pertemuan pertama perkuliahan di UIN Jakarta. “Anak UIN jangan kalah ama anak UI. Kalian juga harus berani bermimpi kuliah di Amerika.”  Dosen yang memang mempunyai track record mumpuni  itu seperti membakar semangat dan menularkan optimisme. Dia mendorong kami, mahasiswanya, untuk berani bermimpi besar, berani mendobrak stigma bahwa anak IAIN/UIN, alumni pesantren, juga ternyata punya kualitas untuk bersaing dan meraih beasiswa ke luar negeri.

Bahasa Inggris saya yang masih acak-acakan pun saya perbaiki berbekal semangat yang masih hangat saat itu. Benar kata pepatah, jika anda ingin selalu wangi, bergaullah dengan penjual parfum. Bergaul dan bersahabat dengan para sahabat yang sama-sama memiliki mimpi yang sama adalah syarat mutlak menjaga semangat dan menjaga asa mimpi.

Aktif di berbagai kegiatan di luar perkuliahan pun saya tempuh. Tujuannya jelas, menambah pengalaman dan memperluas jaringan. Saya juga mulai kasak kusuk dan hilir mudik dari banyak pameran beasiswa. Tas penuh dengan brosur dan informasi beasiswa ke luar negeri adalah oleh-oleh wajib yang harus saya bawa pulang.

NESO, Erasmus Mundus, Fullbright, Chevening, ADS, dan Monbukagakusho adalah beberapa lembaga donor beasiswa yang saya datangi. Aktif di berbagai milis beasiswa dan berkomuni

Mimpi Tanpa Usaha = Ngareuppp bin Daydreaming

Selepas lulus dari UIN Jakarta, saya seperti menjadi scholarship hunter, istilah untuk para pemburu beasiswa di dunia maya. Semua informasi beasiswa saya pelototi satu per satu. Saya berusaha untuk selalu update dengan informasi beasiswa. Saya percaya dengan ungkapan populer ini, ”Siapa yang menguasai informasi, dia menguasai dunia”.

Saya beberapa kali mengajukan lamaran beasiswa meski sebatas beasiswa non gelar seperti pertukaran pemuda ASEAN, pertukaran pemimpin muda muslim Indonesia-Australia, pertemuan pemuda G-20 di Paris, dan beasiswa Korea. Hasil akhirnya selalu identik; entah itu ditolak atau dicuekkan. Bahasa keren santrinya “Mardudatun La Tukbalu”, ditolak dengan telak. Ternyata benar bahwa rasa sakit ditolak beasiswa itu jauh lebih perih dibanding ditolak orang yang kita cinta.

Affirmasi, Imaginasikan Mimpimu

Seorang teman yang tengah meraih beasiswa ADS memberikan satu tips sederhana namun asik: baca testimoni para penerima beasiswa dan imajinasikan kamu sedang ada disana. Dia bilang “Affirmasi itu penting loh. Sering-sering buka kampus yang dituju, daerah yang mau ditempatin, bayangin aja kamu udah ada disana. Itu ngaruh banget beneran. It helped me a lot”. Katanya dengan semangat.

Saran itu benar-benar saya jalankan. Saya jadi rajin baca kisah sukses beasiswa sambil tak lupa terus mengasah kemampuan teknis ke-bahasa inggris-an.  Satu dari sekian buku pembangkit semangat itu adalah buku keren karya Irfan Amalee, founder peace generation, “Beasiswa di bawah kaki  Ibu”.  Beliau adalah penerima beasiswa Ford Foundation untuk studi magister di Brandeis University, Massachusetts.

Buku itu seperti asupan vitamin yang bergizi. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, cerita demi cerita yang ditulis seolah mampu membawa imajinasi saya jauh ke sana, jauh ke Negara para penguasa dan asik menikmati kehidupan di sana. Efek dari membaca buku itu mujabarab: saya lebih serius mempersiapkan aplikasi beasiswa. Saya akhirnya kembali mengirim lamaran beasiswa setelah 2 tahun vakum pasca kegagalan demi kegagalan meraih beasiswa.

Restu dua Wanita Hebat; Ibu dan Istri

Adduau Silahul Muslimin. Doa itu senjatanya orang muslim. Saya percaya betul dengan efek sebuah doa. iIkhtiyar ‘bumi’ yang saya lakukan dengan cara mengirim berbagai aplikasi beasiswa saya sempurnakan dengan tambahan ikhtiyar ‘langit’ dari dua orang wanita yang saya kagumi: doa restu dari Istri dan Ibunda.

Saya mulai serius untuk (kembali) mempersiapkan berbagai dokumen dan persyaratan untuk melamar tiga beasiswa pada tahun 2013: LPDP, AAS dan Prestasi USAID. Saya cermati semua isian pertanyaan dalam aplikasi, saya melakukan riset sederhana tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam aplikasi, saya tanya banyak orang yang lebih berpengalaman dalam urusan beasiswa,dan tak lupa mempersiapkan kemampuan Bahasa Inggris yang dipersyaratkan.

Kesimpulan dari proses itu adalah BERAT. Mengisi form aplikasi ternyata tidak semudah menulis status facebook atau Twitter. Saya membutuhkan waktu berbulan-bulan dan revisi berkali-kali untuk menyelesaikan sebuah formulir aplikasi. Seingat saya, terakhir kali saya dibuat stress oleh sebuah deadline adalah ketika saya menyusun skripsi. Nampaknya, level kesulitan formulir beasiswa ini mendekati kesulitan skripsi.

Dalam empat bulan, saya akhirnya menyelesaikan aplikasi beasiswa PRESTASI dan AAS, dan menunda beasiswa LPDP dengan beberapa alasan. Sayangnya, saya tidak sempat untuk mengirim aplikasi AAS karena deadline yang terlewat. “What a Stupid Mistake”.  Saya sudah siap dengan segala konsekwensi hanya mengirim satu beasiswa. Peluang diterima lebih sulit dan harus menunggu tahun depan untuk kembali mengirim aplikasi beasiswa ke beragam jenis penyedia dana.

Anyway, saya berpasrah sambil tak lupa berdoa dan meminta doa orang-orang terdekat saya. Faidza Azamta, Fatawakkal ‘alalloh.

Time is fleeting. Semua jerih payah itu ternyata membuahkan hasil. Semua tahapan berjalan sesuai keinginan. Mulai dari Proses Aplikasi, Interview, hingga pengumuman Kelulusan. Tuhan sangat baik dengan saya,

Hari ini, sudah hampir dua tahun sejak pengumuman kelulusan tersebut. Satu tahun tersisa untuk melanjutkan perjuangan dan menunaikan mimpi lainnya yang masih harus ditunaikan.

Wallahu a’lam bisshowab.

 

Wendi Wijarwadi

Alumni Pesantren Cipasung

Mahasiswa Magister Pendidikan,

Department of Organization, Leadership, and Policy Development,

College of Education and Human Development,

University of Minnesota Twin Cities (UMTC).