Home > Publication > Opinion > Menulis; Bekerja Untuk Keabadian

Menulis; Bekerja Untuk Keabadian

Oleh: Ahmad Sobron*

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. (Pramoedya Ananta Toer)

Pada dasarnya menulis bukanlah sekedar menyusun ulang berbagai huruf ke lembaran kosong. Melainkan cara lain untuk menyampaikan ide dan gagasan selain melalui omongan, yaitu melalui tulisan. Sering kali kita dapati ide tau gagasan itu muncul tanpa kita sengaja. Ia bias muncul dimana saja, diperjalanan, ketika makan, ketika menjelang tidur, atau bahkan ketika kita buang hajat. Ide akan terus mengambang, kalau tidak kita ikat dengan tulisan, tak lama ide itu akan hilang terhapus waktu. Itulah makna lain dari menulis, yaitu agar tidak lupa. Sebagaimana ungkapan Zarry Hendrik bahwa menulis adalah perjuangan melawan lupa.

Sedemikian pentingnya kegiatan menulis, sehingga banyak penulis yang mengingatkan kita tentang arti penting dan manfaat menulis. Salah-satunya diatas kita dapati unkapan Mas Pram (saya menyebutnya) bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Hal ini terbukti bahwa banyak sekali gagasan ilmuwan yang hari ini masih diperbincangkan, walaupun si-empunya gagasan sudah meninggal.

Contoh lain adalah ketika saya kesulitan untuk mengetahui siapa kakek-buyut saya dan bagaimana kesibukan dimasa muda mereka. Padahal kakek-buyut dan saya jarak usianya hanya terlampau sekitar 100 tahun. Berbeda dengan ketika saya mencari tahu Socrates, Plato, dan Imam Al-Ghazali. Meskipun jarak usia saya dan mereka terlampau lebih dari 1000 tahun, saya lebih mengenal mereka dan kesibukan mereka daripada kakek-buyut saya sendiri.

Saya bisa membayangkan pikiran-pikiran Karl Marx, Imam Al-Ghazali waktu masih muda. Tetapi saya tidak bisa membayangkan pikiran-pikiran kakek-buyut saya sendiri ketika masih muda, padahal beliau baru meninggal beberapa tahun lalu. Dan kita bisa bernasib sama dengan kakek-buyut kita, benar-benar hilang dari muka bumi, bahkan tak satupun keturunan kita yang mengenal nama kita, bahkan mengenangnya.

Tidak hanya Mas Pram, penulis Helvy Tiana Rosa mengatakan “Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi”. Wawan Susetya dalam bukunya, menilai bahwa jika buah tangan tulisan kita adalah bermuatan tentang ilmu yang bermanfaat, tentu ia akan termasuk salah satu yang dikatakan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW., mengenai tiga hal yang tidak akan putus meskipun orang yang bersangkutan meninggal dunia, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh. Sepanjang tulisan tersebut terus dikonsumsi banyak orang dan membawa kebaikan bagi masyarakat luas, niscaya pahalanya akan terus mengalir kepada si penulisnya, meskipun yang bersangkutan sudah wafat.

Namun, sering kita berdalih bahwa para tokoh diatas bisa menulis karena mereka memang orang-orang yang berbakat. Hal ini yang membuat kita enggan menulis. Sehingga kita tak punya semangat untuk menyusun kata-kata.
Perlu kita tahu, keberhasilan bukan berdasarkan apa yang kita punya, tapi seberapa niat dan usaha kita. Mungkin pada awalnya tulisan kita akan berantakan, sebagaimana tulisan saya ini. Namun perlu diingat, tidak ada orang yang langsung sukses pada kesempatan pertama. Diperlukan adanya niat, kesungguhan, dan yang terakhir, istiqomah. Mari belajar bersama.

*Alumni BPUN MataAir Foundation

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kewargenegaran

Universitas Negeri Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *