Home > News > Mengantisipasi Radikalisme dari Pondok Pesantren

Mengantisipasi Radikalisme dari Pondok Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID,  Radikalisme menjadi ancaman nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, radikalisme mempunyai dampak buruk dan dapat merusak tatanan masyarakat. Di tengah maraknya radikalisme, peran pondok pesantren menjadi sangat penting.

Kehadiran pesantren sangat penting saat NKRI sedang dilanda krisis moral. Pesantren juga dapat mengantisipasi masuknya atau mewabahnya paham radikal yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Sehingga, negara dan masyarakat pada umumnya harus benar-benar memahami sejatinya peran penting pesantren.

Para santri diajarkan bagaimana caranya berperilaku baik, bermanfaat bagi sesama manusia dan alam sekitar. Ajaran Islam sangat mengutamakan kasih sayang dan mencintai perdamaian. Tentu yang diajarkan Islam sangat bertolak belakang dengan paham radikal. Intinya, kehadiran pondok pesantren dapat mencegah radikalisme mewabah dan meracuni generasi muda bangsa Indonesia.

Pimpinan Pondok Pesantren AL-Huda di Kabupaten Garut, KH Wildan Hilmi mengatakan, dari sudut pandangnya sebagai pengasuh pondok pesantren Al-Huda, radikalisme dibagi menjadi dua. Pertama, radikalisme berpikir dan kedua adalah radikalisme aksi. Dampak dari kedua jenis radikalisme tersebut akan membuat masyarakat menjadi korbannya.

Sebab, dengan pola pikir radikal seperti itu akan berdampak buruk terhadap tatanan hidup masyarakat. “Sementara, para santri di pondok pesantren belajar nilai-nilai ahli sunah waljamaah dan menerapkan nilai-nilai akhlakul karimah,” kata KH Wildan kepada Republika Online.

Menurut KH Wildan, santri di pesantren diajarkan untuk bisa memilih mana yang baik bagi sesama mahluk dan tujuannya pun untuk kemaslahatan. Sehingga, pesantren ini sebenarnya bisa mengantisipasi dan menangkal masuknya radikalisme.

“Untuk mengantisipasi radikalisme masuk kepada masyaraat, masyarakat harus diberi wawasan dan keilmuan yang cukup,” katanya. Salah satunya bisa melalui pengajian di setiap masjid. Para santrilah yang mungkin nanti akan menyampaikan ajaran Islam di setiap masjid untuk kemaslahatan bangsa.

Sebagai pimpinan pondok pesantren, Ia menolak dan tidak sependapat dengan paham radikal baik radikalisme berpikir mau pun radikalisme aksi. Sebab, radikalisme tidak sesuai dengan syariat Islam. Rasulullah pun tidak mengajarkan radikalisme berpikir mau pun radikalisme aksi.

Selain itu, negara dan masyarakat pun harus semakin menyadari betapa pentingnya peran pesantren. Ayat-ayat Alquran tidak mengajarkan paham radikal, kitab-kitab yang dipelajari di pondok pesantren pun tidak mengajarkan kekerasan.

“Peran pesantren sangat penting dalam menjungjung harkat dan martabat bangsa dan negara karena pesantren ini membantu menciptakan perdamaian,” ujar KH Wildan.

Sebagai contohnya, Pesantren Al-Huda di Kampung Nagrak, Desa Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Pesantren tersebut berdiri sejak 1833. Meski telah melintasi zaman, Al-Huda tetap berdiri menegakan ajaran Islam sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang dan Sekutu. Berbagai rintangan telah dilalui dalam menegakan ajaran Islam dari zaman ke zaman.

Bahkan, awal berdirinya pesantren ini bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dari sisi agama. Selain itu, bertujuan untuk membina masyarakat agar lebih memahami ajaran Islam. “Sampai saat ini Pesantren Al-Huda masih memegang teguh tujuannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pesantren,” tegas KH Wildan.

Antisipasi radikalisme

Radikalisme berdampak sangat buruk terhadap tatanan hidup masyarakat dan lebih jauh dari itu dapat merusaka NKRI. Sehingga radikalisme harus menjadi perhataian, diawasi dan diantisipasi.
Kasi Pendidikan Diniah dan Pondok Pesantren, Kementrian Agama Kabupaten Garut, Edi Imron mengatakan, masalah radikalisme tidak cukup hanya ditangani oleh satu kementrian.

“Artinya, masalah radikalisme harus ditangani bersama-sama. Sebab, implikasinya juga luas dan akan merepotkan semua instansi,” katanya.

Namun sejauh ini, dikatakan Edi, Kabupaten Garut masih kondusif. Kata dia, meski ada seribu lebih pesantren di Garut, tidak ada pesantren yang mengajarkan ajaran yang melenceng.

Sumber: Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *