Home > News > Lesehan; Bercengkrama Tak Berjarak

Lesehan; Bercengkrama Tak Berjarak

Oleh: Suprapto*

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tak lepas dari hubungan bercengkrama dengan sesama manusia. Berkehidupan sosial sudah menjadi kodrat sebagai umat manusia. Anjuran dalam agama apapun sepakat jika kehidupan sosial menjadi media mempertemukan dan mempersatukan sesama manusia. Tak jarang kita jumpai umat manusia dengan kebudayaan dan coraknya masing -masing mampu melakukan aktivitas secara bersama. Bagaimanapun kondisinya manusia tetap manusia yang terus memerlukan interaksi dengan sesama manusia.

Hubungan sosial yang telah terjalin tak senantiasa harmonis. Tak terkecuali dalam lingkungan keluarga sendiri. Tak jarang kita dipertontonkan dengan kejadian perceraian, bapak membunuh anaknya, anak membunuh orang tuanya, dan kejadian sadis lainnya. Sebab status sosial di masyarakat bisa menjadi faktor ketidakharmonisan persahabatan. Tentu tidak hanya soal menjulangnya pendidikan yang dicapai. Apalagi masalah status ekonomi, malah akan terjadi tembok pembatas keharmonisan. Wong yang berlabel sosial saja bisa tak harmonis dalam berhubungan sosial. Tidak sedikit kan lulusan ilmu sosial yang canggung di masyarakat? Saya tidak sedang menyindir, tapi ini sebagian kecil realita di masyarakat.

Hubungan sosial yang selama ini terbangun terkadang dengan sendirinya menggeser keakraban. Jarak demi jarak tak terasa semakin lama semakin jauh. Tentu kita sadar bahwa posisi kita adalah manusia yang sama-sama membutuhkan manusia. Namun, setelah dihias semakin kelihatan sendi-sendi kerenggangan hubungan sosialnya.

Dengan tidak menghilangkan etika antara yang muda kepada tua dan begitupun sebaliknya, keharmonisan bisa dibudayakan. Tidak berlebihan kiranya para leluhur kita telah memberi banyak contoh kehidupan sosial yang baik. Salah satu budaya yang selama ini masih kuat di Indonesia adalah budaya “lesehan”. Dalam terminologi kasarnya, lesehan adalah duduk sepadan dalam suatu tempat tertentu. Budaya lesehan sering kita lihat pada tempat makan atau kalau orang jawa biasanya pada acara selametan. Jika dilihat kasat mata dalam posisi duduk lesehan (tak berkursi) dapat mengurangi jarak yang telah terlampau jauh meskipun dekat. Tentu kita menyadari bahwa masjid juga tidak dibuat dengan posisi kursi berjejer. Dalam hal ini pula kita juga menyadari status kemanusiaannya akan sama. Bisa jadi lesehan dapat menjadi sarana mendamaikan perselisihan atau konflik egosentris yang terbangun pada masing-masing individu. Akan lebih asyik dilihat ketika saat makan, bercengkrama, maupun berdiskusi dalam keadaan bokong menempel tanah. Saya kok malah mengandai-andai jikalau budaya lesehan terus dilestarikan tidak menuntut kemungkinan sila ke 5 (lima) dapat dirasakan dengan hati tentram.

Media musyawarah yang masih dicontoh orang Indonesia cukup memberi dampak kerukunan. Dalam hal menentukan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak tidak meninggalkan budaya musyawarah. Anjuran nabi ini ternyata dapat mengurangi perseteruan maupun salah paham yang mengakibatkan permusuhan. Musyawarah pun dapat dilakukan dengan cara lesehan sebagai sarana mengurangi perselisihan sebab status sosial dan ekonomi. Orang desa misalnya, sering membudayakan musyawarah dan melakukan syukuran kecil-kecilan dengan cara lesehan yang menjadikan masyarakatnya bisa “rukun agawe santoso” begitulah pepatah Jawa mengatakan. Maka kecenderungan bersikap rukun lebih dominan daripada menimbulkan perseteruan.

*Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa

Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Malang

Alumni BPUN MataAir Jombang

MataAir-Red: Wachid Ervanto