Home > News > Konstruktivisme dan Sekolah Kejuruan

Konstruktivisme dan Sekolah Kejuruan

Senin, 26 September 2016 05:50 WIB Penulis: Ahmad Baedowi Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta.

TINGGINYA angka pengangguran, yang mencapai sekitar 42 juta jiwa dan rendahnya angka melanjutkan siswa ke perguruan tinggi, membuat dunia pendidikan di Indonesia harus mengoreksi landasan operasional persekolahan mereka.

Salah satu isu penting saat ini ialah mengembalikan fungsi dan peran sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai salah satu solusi menyiapkan lulusan yang memiliki keterampilan dan dapat diserap bursa kerja.

Meskipun kebijakan ini dianggap belum sepenuhnya dapat menjamin keberhasilan tujuan penyelenggaraannya, paling tidak SMK akan sedikit memberi harapan kepada warga bangsa sekaligus pemerintah tentang solusi alternatif dari tingginya angka pengangguran.

Kegalauan inilah yang dibaca Presiden Jokowi ketika mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Pendidikan Menengah Kejuruan dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.

Beberapa persoalan teknis yang mungkin muncul sesudah inpres ini ialah menyangkut kesiapan guru dan manajemen sekolah untuk membuka diri terhadap rencana perubahan.

Guru perlu diperkenalkan makna dan teori belajar secara lebih baik dalam rangka membimbing dan membina siswa agar lebih mandiri dan memiliki keinginan untuk merekonstruksi dunia belajar ke dalam dunia kerja.

Hal ini penting untuk diketahui para pengelola sekolah kejuruan karena hingga saat ini pandangan ahli pendidikan tentang sekolah kejuruan masih mendua.

Menurut Parnell (1966), sebagian ahli pendidikan mengatakan, “Learning to know is most important; application can come later.”

Para penggagas sekolah kejuruan berpendapat, “Learning to do is most important; knowledge will somehow seep into the process.”

Memanfaatkan dan memahami teori konstruktivisme sebagai basis proses belajar mengajar di sekolah kejuruan merupakan salah satu usaha untuk memperoleh legitimasi teoritis sekaligus empiris tentang pentingnya sekolah kejuruan.

Konstruktivisme dalam konteks sekolah kejuruan

Sebagai salah satu aliran dalam filsafat pendidikan, konstruktivisme menegasikan bahwa pengetahuan kita seseungguhnya merupakan hasil konstruksi atau bentukan kita sendiri (Von Glaserfeld dalam Battencourt, 1989 dan Matthews, 1994).

Artinya, teori ini bersandarkan pikiran bahwa seorang siswa sesungguhnya pengemudi sekaligus pengendali informasi dan pengalaman baru yang mereka peroleh dalam sebuah proses memahami, mengkritisi, sekaligus melakukan reinterpretasi pengetahuan dalam sebuah siklus belajar mengajar (Billett 1996).

Secara operasional memang tidaklah sederhana memahami teori ini.

Jika para guru mampu memahami ide bahwa pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan siswa (mind as inner individual representation of outer reality), maka baik guru dan siswa dapat secara bersama-sama mengonstruksi skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur dalam membangun pengetahuan sehingga setiap bangunan proses belajar mengajar memiliki skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang lebih kaya sekaligus berbeda.

Fitur kunci yang lain dari konstruksi pengetahuan ialah konteks fungsional, sosial, dan kegunaan.

Ketika seluruh konteks dapat disatukan dalam sebuah skema pembelajaran secara efektif, pengetahuan dapat digunakan secara maksimal (Johnson dan Thomas 1994).

Meskipun kita tahu bahwa belajar ialah suatu penafsiran personal dan unik dalam sebuah konteks sosial, itu akan lebih bermakna jika akhir dari suatu proses pembelajaran dapat secara langsung memotivasi siswa untuk memahami sekaligus membangun arti baru (Billett 1996).

Untuk itu seorang guru dalam pendekatan konstruktivis harus berfungsi sebagai fasilitator aktif, terutama dalam memandu siswa untuk mempertanyakan asumsi diam-diam mereka, serta melatih siswa dalam merekonstruksi makna baru dari sebuah pengetahuan.

Berbeda dengan behavioralis, seorang guru konstruktivis lebih tertarik untuk membongkar sebuah makna dibandingkan menentukan suatu materi.

Dengan demikian, peran guru dalam pembelajaran konstruktivisme ialah menyediakan pengalaman belajar bagi siswa, memberikan kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa, menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif, serta memonitor dan mengevaluasi hasil belajar siswa.

Seluruh proses ini merupakan pendekatan paling baik dalam mekanisme pengembangan kurikulum sekolah kejuruan.

Aktivitas ialah salah satu faktor kunci dalam konstruksi pengetahuan.

Keikutsertaan siswa dalam seluruh aktivitas dan interaksi pembelajaran setiap hari merupakan kekuatan untuk mengakses informasi dan keterampilan yang lebih tinggi.

Bertambahnya pengalaman secara rutin dan langsung dalam melakukan suatu pekerjaan akan memberikan siswa kemampuan untuk memecahkan masalah secara refleks dan berkesinambungan.

Karena itu, diperlukan sinergi yang jelas antara sekolah kejuruan dan industri terkait dalam rangka memberikan manfaat langsung kepada siswa untuk melakukan proses magang.

Pendekatan konstruktivisme memandang bahwa penguatan keterampilan siswa melalui sebuah praktik magang adalah dalam rangka menumbuhkan kepuasan batin agar perasaan siswa terstimulasi secara positif.

Dalam pandangan Billett (1996), tempat magang sebagai bagian dari proses belajar mengajar di sekolah kejuruan memiliki sejumlah kekuatan sebagai lingkungan belajar yang: 1) asli (autentik), yakni tujuan dari setiap aktivitas diarahkan; 2) juga berfungsi sebagai panduan (guideline) untuk mengakses sumber belajar secara langsung; 3) keterikatan siswa satu sama lain untuk memecahkan masalah setiap hari; dan 4) penguatan intrinsik.

Menurut Hyerle (1996), meskipun pendekatan konstruktivisme dalam model cooperative learning dan asesmen portofolio telah mulai digunakan dalam proses belajar di sekolah kejuruan, tetapi dalam praktiknya masih terbatas pada aspek partisipasi siswa semata.

Hyerle mengingatkan agar para guru juga secara kreatif dapat menggunakan alat-alat visual dalam proses pembelajaran seperti brainstorming webs, thinking process maps, concept mapping, dan juga perangkat multimedia lainnya.

Para guru dan pengelola sekolah kejuruan harus dengan cerdas memahami bahwa tujuan pembelajaran dari pendekatan konstruktivisme adalah untuk mengembangkan self-directed dan pemahaman saling ketergantungan satu sama lain dalam mengakses dan menggunakan pengetahuan sekaligus keterampilan.

Sumber: Media Indonesia