Home > Publication > Opinion > KEPEMPIMPINAN MASA DEPAN

KEPEMPIMPINAN MASA DEPAN

oleh: Lia Safitri*

Jaman modernisasi memang menuntut pemimpin yang serba bisa untuk urusan berbagai hal. Mulai dari kesejahteraan warga, masalah sosial, politik, ekonomi, geografis sampai dengan dalam menghadapi tantangan globalisasi. Dunia modernisasi yang  merupakan dampak dari era globalisasi ini merupakan bawaan dari negara Eropa karena disanalah awal dan cerminan negara maju yang modern. Di Indonesia sosok pemimpin masa depan haruslah mempunyai pikiran-pikiran yang modern dimana dia mampu membentuk Indonesia menjadi negara yang maju dan modern tetapi tidak lupa dengan budaya leluhur/ budaya bangsa dan karakter bangsa. Pemimpin masa depan yang cocok adalah pemimpin yang mampu menonjolkan kebaikan-kebaikan bangsa dan negara Indonesia entah dari sisi budaya, politik, ekonomi, sosial dll, sehingga Indonesia dikenal oleh masyarakat global dan menjadi panutan / gaya baru masyarakat modern (mungkin).

Sekarang ini masyarakat global yang menganggap diri sebagai masyarakat modern adalah mereka yang mempunyai gaya hidup seperti bangsa Eropa. Karena di Eropalah kemajuan dimulai, kemajuan ilmu pengetahuan dan industrialisasi, kemudian disusul oleh negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan. Menurut saya modernisasi dan kemajuan bangsa-bangsa Eropa dan negara-negara Asia Timur seperti Jepang erat kaitannya dengan penjajahan masalalu, karena negara-negara penjajah seperti mereka memang mempunyai banyak modal yang dapat digunakan untuk revolusi industri, sedangkan negara-negara berkembang seperti Indonesia tidak dapat melakukan revolusi industri karena tidak memiliki modal dan sumber daya yang cukup. Maka barulah Indonesia melakukan industrialisasi ketika mendapatkan pinjaman uang dari PBB yang petinggi-petingginya juga dari bangsa Eropa.

Ketika kita melihat masyarakat modern, yang menjadi kekuatan pendorong adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang karena ada dana yang digunakan untuk berbagai penelitian-penelitian, selain itu juga keefektifan manusia sendiri dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Masyarakat yang modern dilihat dari banyak aspek yaitu antara lain sistem ekonomi, politik, dan sosial. Di Indonesia masyarakat modern harusnya tetap dengan kepriadian dan ke khas-an bangsa Indonesia dan sesuai dengan Pancasila.

Kembali dengan sosok pemimpin masa depan yang dapat memodernisasikan dan memajukan bangsa Indonesia. Pemimpin masa depan Indonesia yang pas adalah pemimpin yang dapat menonjolkan segala potensi-potensi bangsa Indonesia sebagai bangsa dengan kepribadian luhur, menonjolkan berbagai macam kebudayaannya, sumber daya alamnya yang melimpah ruah dan juga dapat memajukan potensi manusia sebagai warga negara.

Dikutip dari artikel “Kepemimpinan Menghadapi Masa Depan” oleh Ginandjar Kartasasmita tahun 1997. Beliau menyebutkan bahwa pemimpin masa depan yang pertama harus memiliki idealisme, jelas untuk membawa ke arah mana dia membawa yang dipimpinnya. Dan yang kedua adalah pemimpin harus mempunyai pengetahuan. Yang ketika adalah seorang pemimpin harus menjadi teladan yang baik.

 Kebanyakan para pemimpin Indonesia saat ini termasuk penjabat Negara, Walikota, Bupati, Gurbernur, dan Para Mentri hanya menawarkan janji belaka tanpa disertai adanya bukti di lapangan. Pada saat berkampanye mereka menyuarakan program-program yang pro rakyat, tetapi saat sudah terpilih mereka seperti kacang lupa kulitnya. Mereka lupa untuk siapa dan karena siapa mereka bisa seperti sekarang ini. Banyak para pejabat Negara itu hidup dalam hedonisme dan kemewahan dari hasil uang rakyat yang mereka gunakan untuk kepentingan pribadi. Seakan mereka berada diatas angin dan begitu saja lupa dengan janji yang mereka berikan.

Untuk mengenali apa kepentingan rakyat sebenarnya, pemimpin harusnya melihat masalah mereka dengan mata terbuka karena rakyat sangat ingin dipahami secara langsung, bukan lewat kegiatan berintelektualitas. Dalam teori manajemen, kemampuan mempergunakan kecerdasan emosional ini disebut dengan model primal leadership, yaitu sebuah model kepemimpinan yang dibangun berdasarkan pendekatan sistem neurologi yang melalui riset mengenai otak diperoleh pengetahuan baru yang mengatakan bahwa  suasana hati dan tindakan seorang pemimpin memiliki dampak signifikan kepada orang-orang yang dipimpinnya, dan penelitian tersebut membuktikan seorang pemimpin yang cerdas secara emosi akan mampu menginspirasi, membangkitkan gairah dan antusiasme serta membuat orang lain termotivasi dan berkomitmen.

Sejarah telah banyak mencatat bahwa pemimpin besar yang mampu menggerakkan orang yang dipimpinnya adalah seorang pemimpin yang mampu menyelami perasaan rakyatnya, mampu membangkitkan semangat dan memberikan inspirasi baik itu melalui pikiran, perkataan dan tindakannya maupun melalui visi dan ide-ide yang dikemukakannya. Sehingga untuk menjadi seorang pemimpin besar tidak cukup dengan hanya mengandalkan kharisma dan pencitraan tetapi harus mampu melibatkan emosi.

Seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan emosi mumpuni akan dianggap berhasil apabila mampu mendorong emosi masyarakat ke arah postif, antusiasme, dan berkomitmen, dan seorang pemimpin pecundang umumnya hanya mengandalkan kemampuannya mendorong orang lain ke arah negative thingking, kebencian dan kecemasan. Seorang pemimpin yang mampu mengembangkan perasaan positif maka pemimpin tersebut akan menjadi resonansi (resonance), yaitu pemimpin yang mampu menyelaraskan diri dengan perasaan orang-orang yang dipimpinnya dan menggerakkan perasaan mereka ke arah emosi positif dan ketika seorang pemimpin mampu menciptakan perekat yang mengikat orang yang dipimpin kedalam sebuah cita-cita atau visi bersama, dan inilah satu lagi contoh terpenting dalam model primal leadership.

Jadi menurut kalian siapa pantas menjadi pemimpin masa depan Indonesia?

*Mahasiswi Ilmu Admininstrasi Negara Universitas Airlangga

Alumni BPUN MataAir Regional Kediri 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *