Home > Oase > Jakarta Masih Hujan

Jakarta Masih Hujan

Oleh: Agitha Fricelya Atry Hutabarat

Butuh beberapa saat untuk meyakinkan diri mengangkan teleponmu, karena yang akan kudengar adalah setengah makian, disusul kau yang beberapa waktu kemudian menemukan keberadaanku dan memaksaku masuk kedalam mobilmu dan menceramahiku sepanjang perjalanan menuju rumah. Pembuat onar yang selalu membuatmu khawatir, si cengeng yang mudah kau temukan keberadaannya karena tak dapat pergi jauh sendirian, dan selalu melarikan diri ke tempat yang sama. Tapi itu dulu.

Hari ini aku sudah berjalan sekitar 30 menit sejak turun dari stasiun kota, stasiun pemberhentian terakhir yang memaksaku untuk turun. Aku tak ingin kembali ke tempat yang sama. Tak ada notifikasi panggilan dari ponselku. Sepi. Hanya suara hujan yang kudengar tepat diatas kepalaku, yang tak juga benar benar kudengar, rekaman 4 tahun lalu terus berulang jelas di kepalaku.

“Welcome to Jakarta”, ia berkata.

Lalu aku hanya merengut dan menjawab, “Emang aku ga pernah ke Jakarta?”

Mengelilingi padatnya Jakarta untuk mencari keberadaan lokasi seleksi perguruan tinggi di musim hujan. Dan aku lagi lagi berulah ketika kita terjebak di kepadatan jalan yang amat kau benci, ditambah hujan yang memperburuk lalu lintas ibu kota. Aku kembali merengek dengan alasan alasan manja yang tak bisa kuatasi sendiri.

“Aku gak mau kuliah. Capek. Kan ini cuma pingin pinginan Mama Papa aku kuliah science”.

“Udahlah kuliah aja, kepake atau enggaknya, selesaiin dulu sarjanamu, aku tetep aja mau kamu jadi ibu rumah tangga.” Kau setengah membujuk dan memberiku angin segar janji agar mau melanjutkan studi. Merangkai bersama langkah dan impian sambil menunggu hujan pergi digantikan pelangi dari balik kaca mobil.

Konyol. Itu hanya percakapan konyol anak belasan tahun yang pernah kupercaya. Kepercayaan yang membawaku pada kesakitan yang nyata. Setiap pertemuan dan perpisahan yang kukira akan membuahkan hasil bahagia untuk kita. Aku dan Kau. Mungkin hanya untuk kau berbahagia. Hari di mana kau membawakan koper dan mengantarku ke terminal adalah gerbang penderitaan yang harus kutanggung sendiri. Sendiri, tanpa sedikit pengertianmu, yang ada hanya sejuta tuntutan darimu.

Kau tak pernah mau tahu aku kehilangan waktu tidur dan waktu makan untuk mengejar studi di perguruan tinggi, yang kau tau aku sibuk duduk di warung kopi bersama para teman lekakiku. Tuduhan tak beralasan yang harus kutelan setiap aku lama tak meraih ponsel. Tak membalas pesan dan panggilan yang tak terjawab adalah tanda aku menginginkan perpisahan, apalagi jarak membentang 400 km yang membuatku menjadi pihak yang bersalah karena meninggalkanmu. Padahal, kau yang mengirimku terasing di kota itu.

Aku masih ingat malam aku terduduk di dalam taksi ketika bombardir pesan tiba tiba datang di ponselku. Pesan dan gambar gambar yang melempar fakta bahwa aku termakan kebohongan yang kau tumpuk. Dan akhirnya aku menyerah di tahun kedua studiku untuk menghadapimu. Mencoba lagi, di tahun berikutnya, gagal lagi.

Entah setan apa yang merasuki karena kita bertahan pada ego. Kambing hitamnya? Jarak dan kesibukanku. Dan aku menyerah, barangkali sakit tanpa kehadiranmu akan lebih ringan dibanding sakit bertahan di sisimu. Namun aku tak sepenuhnya benar.

Aku terdampar, terseok menyelesaikan studi yang walaupun akhirnya dapat kuselesaikan tepat waktu, namun masih sering kusumpah serapahi hingga akhir studiku. Puncaknya kau tak hadir di hari aku resmi mendapatkan gelar. Tanganmu tak teraih saat aku kehilangan pegangan, pundakmu tak ada saat aku butuh tempat bersandar. Dan kau tak menepati janjiku menyambutku pulang, meninggalkan aku yang kehilangan arah.
Dan itu semua selalu salahmu. Salahmu. Masih salahmu sampai pada saaat ini karena aku pun tak tahu tujuan selanjutnya setelah aku menyelesaikan studiku. Salahmu aku berjalan di tengah hujan mencoba mengadu nasib, melihat kemegahan ibu kota mencari celah mengais peluang untuk bertahan hidup. Tapi yang kulihat hanya air yang terus menetesi payungku dan putaran kenangan yang sakitnya masih kutahan bertahun tahun lamanya. Akhirnya aku menghentikan langkahku, karena benda kecil disaku bergetar. Satu pesan singkat.

“Aku liat foto di instagram, kamu udah wisuda terus balik rumah?”

Aku tertegun, mendongak ke langit. Mungkinkah pelangi akan segera datang? Atau awan akan tetap menghujani aku dan Jakarta sampai ia sudah cukup terluap?

Sumber:  IDNtimes