Home > News > Haruskah Orang Tua Jual Sawah, Agar Anak Jadi Sarjana?

Haruskah Orang Tua Jual Sawah, Agar Anak Jadi Sarjana?

Haruskan Orang Tua Jual Sawah, Agar Anak Bisa Jadi Sarjana?  Sejak kemarin kami berada di Bandung. Semua Hotel fully book.karena bertepatan dengan acara akbar PON  XIX, ditambah dengan weekend,maka lengkaplah alasan untuk para pendatang dari luar kota membanjiri Bandung. Syukur sahabat kami pak H.Sunardi sudah membookingkan kamar di hotel Mutiara,yang berlokasi di jalan Kedung Kawung. Pagi ini,sehabis sarapan pagi, saya dan istri berjalan diseputaran hotel ,untuk gerak jalan di pagi ini. Tiba tiba pandangan mata tertuju pada sesosok pria tua ,yang memikul barang dagangannya,berupa pisang dan papaya. “ Pisang pak ? Atau papaya matang di pohon pak? “ tanya pria ini dengan sopan. Dari raut wajahnya,tampak sepertinya usianya tidak jauh beda dengan saya. Kebetulan sudah lama saya tidak dapat menikmati buah papaya.Setidaknya selama saya  di Austrlia. Kami beli buah papaya untuk dimakan dikamar hotel dan terlibat pembicaraan ringan. “Berapa usia pak?” tanya saya “64 pak” ,jawabnya sambil memandangi uang hasil penjualan papaya ditangannya. Kemudian mengangkat wajahnya yang tampak keriput dan melanjutkan :” Ini  hasil di pekarangan rumah sendiri pak. Dulu saya punya sawah.  Hidup kami lumayan pak.Pelihara itik juga.  Tapi demi  anak.dijual semuanya untuk sekolahkan anak,agar jadi sarjana. Dengan harapan bisa membantu membiayai sekolah dua orang adiknya.” Pembicaraannya terhenti hingga disini dan tampak pandangannya menerawang jauh dan wajahnya berubah sedih. Menghela nafas panjang dan melanjutkan dengan suara lirih:”Anak sudah sarjana sejak 3 tahun lalu pak.Tapi tuh kerja di hotel,membersihkan kamar . Boro boro ,membantu membiayai sekolah adik adiknya. Untuk biaya hidup sendiri saja tidak cukup pak. Adik adiknya  Cuma sampai sma ,karena tidak ada lagi yang mau dijual.Bahkan untuk menyambung hidup saya dan istri,harus berjualan……” kata pak Asep, dengan suara perlahan,sehingga hampir hampir tidak terdengar, disela sela deru kendaraan yang berlalu lintas. Itulah sekilas pembicaraan singkat kami dengan pak Asep,yang kemudian pamitan dan meninggalkan kami dengan langkah gontai ,sambil memikul pisang dan buah papaya yang masih tersisa 2 buah lagi. Meniti pinggiran jalan raya,untuk mendapatkan uang,demi menyambung hidupnya bersama istrinya. Haruskah Anak Jadi Sarjana? Terpikir oleh saya, haruskan orang tua ,memaksa diri,untuk menjual sawah ataupun menggadaikan rumah ,untuk menyekolahkan anak agar jadi sarjana? Begitu mutlakkah  titel sarjana untuk dapat mengubah hidup? Alangkah baiknya ,bila putranya setelah tamat sma bekerja ,sambil membiayai kuliah sendiri,sehingga tidak membuat orang tuanya hidup sengasara diusia menua. Tapi hal ini  sekedar bergayut dalam pikiran saya.menenggok orang tua,yang terseot seot memikul buah pisang dan papaya disepanjang jalan. Padahal seandainya ,pak Asep tidak menjual sawahnya,anak anaknya toh masih bisa mencari nafkah,walaupun tanpa menyandang gelar sarjana. Dan pak Asep bersama istrinya,tidak harus menapakki hidup diusia tua dengan meniti jalan disepanjang hayatnya. Pak Asep,hanya salah satu contoh dari puluhan atau mungkin juga ratusan Asep  Asep lainnya diseluruh tanah air, yang menjual sawah dan harta bendanya ,demi mengejar prestige agar anak menjadi sarjana, tanpa memikirkan bahwa anak anaknya yang lain ,juga berhak untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Tapi tentunya setiap orang tua berhak untuk berbuat yang menurutnya terbaik bagi anak anaknya. Walaupun sesungguhnya ,titel sarjana bukanlah merupakan kapling dari sebuah kesuksesan hidup.Melainkan semata ,merupakan salah satu jalan hidup. Ada seribu jalan untuk meraih keberhasilan dalam hidup,tanpa harus terpancang dan memaksakan diri ,menjadi sarjana. Hidup adalah sebuah pilihan.Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya dan tak seorangpun berhak untuk mengintervensinya, termasuk saya.  Tulisan singkat ini,hanya merupakan sebuah refleksi dari jalan hidup yang sudah dipilih pak Asep. Your choice Is your life.

Bandung,  26 September 2016 Tjiptadinata Effendi