Home > Publication > Opinion > Dari Pemuda Untuk Kemandirian Bangsa

Dari Pemuda Untuk Kemandirian Bangsa

oleh: Rizkiah*

A. Eksistensi Historis Pemuda dalam Kemerdekaan Indonesia
Didalam masyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai harapan bangsa dan dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan. Selain dari pada itu, dalam masyarakat pemuda juga berkedudukan sebagai makhluk moral dan sosial. Dengan status, fungsi dan kedudukan pemuda didalam masyarakat tersebut maka dapat kita simpulkan bahwa negara menaruh harapan besar terhadap para pemudanya.
Tanggal 20 mei 1908 merupakan momen lahirnya organisasi Budi Utomo yang merupakan tonggak permulaan pergerakan nasional Indonesia. Organisasi yang dipelopori oleh Soetomo ini yang kemudian dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Gaungnya mampu terdengar keseluruh penjuru tanah air dan mempelopori lahirnya organisasi – organisasi baru seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Sekar Rukun, dan Pemuda Kaum Betawi.
Pada awal berdirinya, Organisasi Budi Utomo hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial budaya. Organisasi ini mendirikan sejumlah sekolah yang bernama Budi Utomo yang memiliki tujuan untuk memelihara serta memajukan kebudayaan Jawa. Anggota Budi Utomo terdiri dari kalangan atas Suku Jawa dan Madura. Hal ini kemudian menyadarkan mereka akan pentingnya suatu organisasi pergerakan bagi rakyat.
Selain itu, sejarah perjuangan para pemuda Indonesia juga masih sangat banyak lagi dalam menorehkan sejarah yang tak terlupakan diantaranya Sumpah Pemuda, Tragedi Rengasdengklok yang menceritakan perselisihan dikalangan para pemuda yang kemudian memutuskan untuk menculik Soekarno agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamirkan. Serta pasca kemerdekaan, pemuda kembali menorehkan sejarah menggulingkan Soekarno yang terjadi pada tahun 1962 yang kemudian tidak lama setelah itu pemuda kembali turun kejalan menghancurkan rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto. Pengawalan terhadap sistem Pemerintahan Indonesia yang tercatat dalam tragedi 1998, kemudian Tragedi Semanggi, Tragedi Reformasi yang masih banyak lagi. Namun banyaknya sejarah tersebut bukan berarti tugas para pemuda Indonesia telah usai, mereka harus terus melakukan kehidupan yang produktif untuk kemajuan bangsanya, karena seperti pesan yang dikatakan oleh Founding Father kita bersama, yaitu Ir.Soekarno yang berpesan kepada para pemuda Indonesia bahwasanya, “Perjuangan kita belum selesai.” Tentunya pesan ini merupakan suatu amanah yang diberikan oleh Soekarno terhadap para pemuda Indonesia untuk terus berdialektika dalam kehidupan yang produktif agar Indonesia selalu dalam pengawalan dan pengawasan para pemudanya yang kritis dan transformatif.

B. Human Resources VS Nature Resources
Pesatnya transformasi agraria menuju industri yang terjadi di Indonesia dewasa ini mengakibatkan banyaknya peralihan matapencaharian masyarakat yang sebelumnya bercocok tanam, bersentuhan dengan alam, kini harus bergelut dengan mesin-mesin modern. Seiring perkembangan ekonomi kapital yang berbarengan dengan kemajuan teknologi industri namun tidak diiringi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai hal tersebut hanyalah proses penggalian jurang yang semakin lebar antara kaum kapital dengan rakyat jelata. Sistem Ekonomi Kapital yang membuat Indonesia bergantung pada luar negeri ini berdampak pada kemandirian ekonomi dalam negeri yang semakin tergoncang. Hal demikian jelas sangat membutuhkan kreartivitas masyarakat agraris untuk tetap bertahan hidup dengan pengolahan atau pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) juga Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengolah perekonomian lokal. Perubahan tersebut bisa diawali dari pembangunan ekonomi desa oleh para pemudanya.
Kemajuan Industri yang terjadi di Indonesia ini kemudian tidak diimbangi dengan kemajuan kapasitas para pemudanya. “Indonesia memang negara kaya, tapi orang-orangnya pemalas dan suka melalaikan tanggung jawab yang diberikan”. Mungkin itulah sepatah kalimat yang diberikan oleh orang Jepang jika ditanya tentang Indonesia. Penghinaan ini menjadi hal yang sangat wajar dilontarkan kepada masyarakat Indonesia. Karena pada kenyataannya ini merupakan suatu fakta memalukan yang harus kita akui bersama. Bagaimana tidak, bangsa Indonesia yang ‘katanya’ negara subur dan makmur, gemah ripah loh jinawi. Tetapi untuk memenuhi sandang pangan saja harus ‘utang’ kepada negara tetangga, yang katanya Indonesia punya beribu-ribu hektar lahan tebu, tapi mengapa untuk minum teh saja Indonesia harus mengimpor gula dari luar negeri? Padahal dalam peta terpampang jelas bahwa wilayah kita sebagian besar adalah kepulauan dan lautan yang membentang dari Sabang hingga Merauke yang mempunyai lebih dari tujuh belas ribu pulau. Sering juga kita baca Indeks Kekayaan Wilayah NKRI, yang menyebutkan, “Indonesia adalah negara maritim yang sebagian besar wilayahnya adalah lautan”. Tapi untuk memenuhi kebutuhan ‘dapur’ saja harus bergantung pada orang lain. Lantas pertanyaan mendasar yang muncul adalah dimanakah letak kekayaan yang sering kali kita banggakan selama ini?
Tidak dapat dipungkiri Indonesia memang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah. Namun, kenyataannya banyaknya Sumber Daya Alam tersebut tidak bisa menjadikan negara ini lebih unggul. Bahkan untuk bisa sejajar dalam kemajuan dengan bangsa lain pun masih sangat sulit. Bisa dibilang Indonesia sudah tertinggal sangat jauh. Jika berkaca pada negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang seharusnya kita bisa mengatakan bahwa “Kita Bisa!” Bahkan kita seharusnya ‘lebih bisa’ dari mereka jika dilihat dari sudut pandang Sumber Daya Alam (SDA) yang kita miliki. Beragam jenis flora dan fauna yang tersebar diseluruh nusantara, tanah kita adalah ‘tanah surga’; tongkat, kayu dan batu jadi tanaman seperti sepenggal lirik dalam lagu ‘Kolam Susu’ karya Koes Ploes, yang semua itu tidak dimiliki oleh negara lain, termasuk Jepang. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita tidak bisa seperti mereka bahkan lebih dari mereka? Nah, mungkin jawabannya adalah karena Sumber Daya Alam yang berlimpah-ruah yang kita miliki itu tidak ditunjang dengan Sumber Daya Manusia (human resources) yang mampu mengelola dan meningkatkan pembangunan ekonomi yang juga didukung dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Lalu, siapa yang menjadi human resources tersebut? Tentu saja kita, pemuda sebagai penerus dan pemangku cita-cita bangsa ini.

C. Pemuda VS Ekonomi Kreatif
Sebagai pemuda, sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk mengambil peran kita selaku agent of social control dalam kehidupan berbangsa. Kita harus bisa menjalankan tugas dan kewajiban kita sebagai agent of social change. Sebagai tulang punggung perekonomian yang memikul tanggung jawab demi memajukan bangsa, pemuda harus bisa melanjutkan dan mengisi peranannya untuk pembangunan dan perbaikan bangsa diberbagai sektor termasuk ekonomi. Dengan menggali kembali eksistensi dalam cita-cita kemandirian bangsa dibidang perekonomian.
Yang pertama adalah meningkatkan produktifitas dan kualitas dalam proses industri, karena tanpa adanya peningkatan tersebut adalah hal yang mustahil bagi kita untuk bersaing, karena pada nyatanya hari ini masyarakat kita lebih percaya pada produk luar, dengan alasan harga yang lebih rendah atau kualitas yang lebih terpercaya. Sebuah kalimat “kemandirian” akan terealisasikan jika sebagai penggerak pembangunan, para pemudanya mampu menciptakan konsep kreativitas dan daya saing guna memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri, baik dari segi sandang, pangan, maupun papannya. Pada tahun 2014 tercatat bahwa Indonesia merupakan bangsa yang berpenduduk sebanyak 248 Juta jiwa. Oleh karena itu, hal tersebut sangat memprihatinkan apabila sebagian besar Sumber Daya Alam serta aset-aset negara yang kita miliki itu sebagian besarnya berada dalam kuasa asing. Sudah berapa banyak perusahaan asing yang ‘numpang tinggal’ di negeri kita? Namun, meski demikian kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan orang-orang luar yang telah dapat mengeruk banyak keuntungan dari usaha pembodohannya terhadap kita karena kita sendiri yang memang dengan legowo mau-maunya dibodohi dengan begitu mudahnya
Kedua, selain meningkatkan produktifitas dan kualitas industri yang harus kita lakukan dalam proses pembangunan ekonomi bangsa ini adalah membiasakan diri untuk menjadi decision maker serta problem solving yang selalu ada dan mengada dengan gebrakan kreativitasnya sehingga kita sebagai pemuda tidak hanya sekedar menjadi something taker saja, yang cenderung kagetan atau latah dalam menghadapi arus globalisasi ini, karena harus kita akui bahwasanya arus globalisasi yang berkembang dewasa ini menyebabkan kaburnya batasan antar negara. Tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Akses keluar-masuk antar negara sudak tidak dapat terbendung. Proses kegiatan ekonomi yang meliputi produksi, konsumsi, dan distribusi sudah tidak lagi mengenal batas negara. Perdagangan barang dan jasa maupun modal sudah sangat terbuka bagi pangsa pasar asing, sehingga persaingan akan semakin menggila dengan sendirinya. Kita bisa dengan bebas keluar masuk pasar internasional, dan justru keadaan inilah yang menjadi kelemahan kita, karena nyatanya hasil produksi kita tidak menghasilkan produksi yang mampu bersaing dengan pasar dunia. Dalam keadaan yang seperti inilah kemudian pemuda dituntut untuk lebih kreatif dalam mengeluarkan ide-idenya karena untuk menghadapi globalisasi dan perubahan yang semakin pesat ini sangatlah dibutuhkan peranan pemuda dalam perencanaan menjadi pemuda yang kreatif, inovatif, kompetitif, serta mandiri juga mempunyai ketangguhan untuk tetap bertahan pada persaingan dengan dunia luar.
Ketiga, mewujudkan kemandirian dan kemajuan bangsa yang perlu didukung oleh kemajuan untuk mengembangkan potensi diri dengan konsep yang ilmiah. Konsep kemandirian itu sendiri bisa diartikan sebagai upaya pemenuhan dan pengerjaan segala sesuatu untuk dirinya sendiri dengan didorong oleh kekuatan dan kemauannya sendiri, dalam artian berusaha mengoptimalkan kemampuannya serta tidak bergantung pada orang lain. Berdikari memang bukan hal yang mudah, tapi dengan sistem ekonomi kapital yang melahirkan individu-individu yang apatis, yang menurutnya tanpa perubahan pun semua akan baik-baik saja atau juga mereka yang berpikiran dan bersikap sangat individualistik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini, tak pernah memikirkan nasib bangsa dan perkembangan masyarakatnya, mereka hanya memikirkan pencapaian hidup bahagia yang sudah dikonstruk dalam satu warna oleh Sistem Kapitalisme Global ini. Untuk itu, perubahan bisa diawali oleh para pemuda yang tersadarkan serta terus melakukan konsolidasi pengetahuannya hingga terciptanya suatu kesadaran kolektif pada diri bangsa ini.
Sebagai sosok yang hidup dalam neraca perusahaan yang bernama Indonesia ini pemuda tidak hanya menjadi ‘modal’ akan tetapi juga sebagai ‘aset’ atau ‘harta’, pemuda bisa di deskripsikan sebangai balance account, dimana dalam sisi kredit menjalankan peranannya sebagai manusia yang bermodalkan imtaq dan iptek sehingga pada sisi debit yang bisa menghasilkan output yang berupa pembangunan kemandirian. Dengan demikian, peranan pemuda kembali nyata di negeri ini.

*Mahasiswi Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Alumni 2nd Best of The Best MataAir Foundation