Home > Oase > Bagaimana Kita Mengukur Kebahagiaan ?

Bagaimana Kita Mengukur Kebahagiaan ?

oleh: Nita Fauziah

Bagaimana bila ukuran kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu berbagi kebahagiaan?

Sebuah alkisah, seorang siswa kelas dua SMA di California, bernama Andy. Ia suka menggangu orang-orang yang ada disekelilingnya. Berbagai macam hal konyol ia lakukan, mulai dari permen karet yang ditaruh di bangku kelas, sampai papan tulis yang sengaja ia pindahkan sehingga para guru kebingungan mencarinya.

Bahkan pernah ia pernah melakukan tidakan yang sangat berbahaya. Pernah ia kedapatan membocorkan rem mobil temannya hingga celaka. Padahal, temannya itu tidak punya salah apa kepadanya. Alhasil, Andy diciduk oleh aparat keamanan. Tapi sayangya, setelah ia bebas tetap saja Andy tidak pernah ada kapoknya.

Bagi Andy, kebahagiaan itu adalah ketika ia melihat orang lain tidak bahagia. Dia merasa senang melihat orang marah ketika Andy menganggunya. Yang berarti ia berhasil. Sebaliknya ia merasa kesal jika orang yang dia ganggu justru tidak marah dan justru tersenyum kepadanya. Ia sangat tidak suka ketika orang yang dia jahili tetap baik kepadanya.

Nah, sekarang bagaimana dengan kita? Apakah kita bahagia melihat orang lain tidak bahagia? Apakah kita masih bisa berbahagia jika kesenangan kita berada di atas penderitaan orang lain? Apakah kita masih bisa tersenyum sedangkan disana ada yang menangis karena cara kita meraih kesenangan itu tidaklah benar, tidaklah baik?

Kita sendirilah yang tahu jawabannya. Syukur-syukur jika kita mampu membuat orang di sekeliling kita bahagia.

Ada sebuah kisah nyata, orang ini bernama Efendi. Dia seorang eksekutif muda di kawasan sudirman yang sudah memiliki segalanya, karier yang bagus, rumah mewah, mobil keren, istri cantik, dan anak yang lucu. Namun, ia masih merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ia merasakan kehampaan di hatinya, seperti kekosongan batin.

Suatu hari, ketika ia sedang olahraga pagi, ia bertemu dengan seorang ibu yang sedang menangis. Biasanya ia tidak mau perduli dengan hal-hal lain disekitarnya. Apalagi jika tidak ada hubungan dengannya. Tapi, saat itu ada kekuatan lain yang memaksanya untuk bertanya kepada ibu itu.

“Kenapa Ibu menangis?”

Kemudian ibu itu berkata bahwa ia baru saja dipecat dari tempatnya bekerja. Padahal, di hadapannya terbentang luas beragam kesusahan; mulai dari anak dan suaminya yang sakit, hingga ketidak cukupan uang untuk membeli makan dan berobat anak serta suaminya.

Efendi akhirnya tergerak membantu ibu tersebut. Dia mengatarkan ibu tersebut pulang, kemudian diberikan uang secukupnya, bahkan anak dan suami ibu tersebut dibawanya berobat ke dokter.

Hari itu, Tuhan sang pemilik kebahagiaan rupanya senang melihat apa yang telah dilakukan efendi. Dan saat itu pula, efendi merasakan satu kebahagiaan yang selama ini ia rasa kurang dalam dirinya.  Akhirnya efendi sadar bahwa, sesuatu yang dirasa kurang itu adalah karena ia jarang membantu orang lain disekitar yang memang sangat butuh pertolongan dari orang-orang diatas. Ia jarang mau berbagi kebahagiaan kepada sesama.

Sahabat…. Kebahagiaan-Nya, adalah ketika melihat kita hambanya bisa bahagia. Dan kehadiran-Nya, adalah agar kita mampu merasakan kebahagiaan. Namun, tidaklah senang jika kemudian kita menikmati kebahagiaan dalam kesendirian alias tidak mau berbagi. Apalagi jika kebahagiaan itu kita dapatkan dengan cara merugikan orang lain.

Yang patut kita ketahui, Tuhan selalu berkenan memberkahi kehidupan kita. Agar apa? Agar kita juga berkenan menjadi berkah untuk sesama. Tuhan ingin kita menjadi bahagia dan tentunya kita juga membahagiakan orang alin. Tuhan ingin kita berhasil, kaya, dan makmur, agar kita bisa meneteskan aliran rezeki-Nya untuk sesama.

Tapi Tuhan,  akan mencabut semua kebahagiaan, manakala tujuan utamanya memberikan keberkahan tidak tercapai, tidak kita laksanakan. Oleh karenanya, jangan sampai kebahagiaan yang telah kita dapatkan, di tukar dengan penderitaan dan kesedihan.

Wahai zat yang ememiliki bimbingan, bimbinglah kami untuk menemukan arti kebahagiaan. Kebahagiaan ketika kita bisa membahagiakan orang lain disekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *