Home > Publication > Opinion > Bagaimana Kita Bersikap Terhadap Non-Muslim?

Bagaimana Kita Bersikap Terhadap Non-Muslim?

Sebagai seorang muslim yg hidup di negara mayoritas berpenduduk muslim sebenarnya bagaimana sikap kita terhadap non muslim?

Khususnya mereka yg hidup berdampingan dan satu negara dengan kita (dengan tanpa melihat apa sistem negara itu).
Atau jika kebetulan di antara kita ada yg hidup di negara dengan penduduk mayoritas non muslim. Sebagai muslim yg baik apa sikap kita? Karena jika memperhatikan sebagian pemikiran yg disebar kita mendapati ada sebagian doktrin salah yg mengarahkan dan mengilustrasikan…

… Jika setiap non muslim, di manapun itu, adalah orang yg harus dimusuhi & diperangi membabi buta.. Kalau bisa dibunuh saja di manapun…

Dan tentu saja mereka berdalih membawa2 ayat segala hanya saja (lagi2 dan selalu begitu) salah dalam menggunakan dan meletakkan ayat itu. Semisal ayat 36 yg terdapat dalam surat Attaubah dengan klaim tanpa dalil jelas bahwa ayat itu mengamandemen ayat2 toleransi dlm al-Qur’an atau semisal beranggapan bahwa karena non muslim maka harta dan apapun kepunyaannya halal dijarah. Seperti sebagian sikap kepada cina.

Namun apa betul seperti itu sikap syariat kepada non muslim? Apa semua yg non muslim itu musuh?

Dalam istilah syariat kita sangat familiar sekali dengan kata kafir untuk menyebut non muslim. Mereka yang beragama selain Islam. Tetapi syariat, melalui al-Qur’an dan praktek lapangan yang dituntunkan Nabi kepada kita mengajarkan bahwa sikap pada non muslim, tidak sama oleh Fiqh, tuntunan bersikap kepada non muslim dijabarkan dengan cara sangat elegan.

Dan aku yakin sekali, bahwa orang orang Islam yang bersikap ketus kepada setiap non muslim, atau bahkan membunuhnya tanpa sebab adalah orang orang bodoh yang tidak memahami fiqh dan tidak tahu maqosidut tasyri’, tetapi selalu mengaku paling berislam sendiri.

Secara ringkas, syariat mengkategorikan non muslim mnjadi 4. Satu bisa diperangi dengan beberapa persyaratan, sedang yg 3 tidak boleh diperangi

Tiga jenis non muslim yg tidak boleh diperangi dan kita bisa hidup berdampingan dg mereka, berinteraksi sosial dll adalah…

(1). Kafir Dzimmi, non muslim yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah, dan yg mematuhi aturan pemerintahan itu dengan memberikan kompensasi atas jaminan keamanan tadi kepada pemerintahan yg disebut jizyah, sejenis pajak atau bea izin tinggal. Tentu saja pemerintahan yang berhak menerima jizyah di sini adalah pemerintahan dengan sistem Islam. Jika bukan, maka tak ada jizyah.

(2) Kafir musta’man, non muslim (baik musuh atau tidak) yg meminta perlindungan (suaka) secara khusus kepada pemerintahan dan pemerintahan memberikan suaka pada non muslim tadi. Juga dg kompensasi tertentu jika pemerintahannya bersistem Islam.

(3) Kafir Mu’ahad, non muslim yg mengadakan perjanjian dg ummat islam baik tertulis atau tidak untuk saling hidup damai dan berdampingan seperti non muslim yg ada di Negara kita tercinta. Dan bisa jadi 98% non muslim di Indonesia adalah salah satu dari 3 kategori ini artinya mereka tidak boleh diperangi, tidak boleh diganggu dan harta bendanya haram bagi muslim untuk menyentuhnya.

Adapun jenis kafir/non muslim yang kita boleh melakukan perlawanan terhadap mereka (catat, melakukan perlawanan, bukan serangan) adalah Kafir Harbi yang memusuhi kita dan memulai melancarkan serangan kepada kita terlebih dahulu.

Jika mereka melakukan serangan bersenjata, maka kita membela diri juga tentu saja dengan melakukan counter attack bersenjata adapun jika kita berniat melancarkan serangan terlebih dahulu kepada kafir jenis harbi ini, maka harus ada komando resmi terlebih dahulu

Serangan tidak bisa dilakukan secara personal tanpa ada izin resmi terlebih dahulu dari hukumah Islamiyyah.
Nah apalagi kalau serangan dilakukan kepada non muslim yg bkn jenis harbi, ngebom sipil tak berdosa misalkan. Islame sopo dan Islam opo iku. Dan itupun (melihat beberapa kasus di negara yg menampakkan permusuhan pada Islam) adalah pemerintahannya, bukan penduduknya.

Maka semisal jika ada penduduk suatu negara yang kebetulan pemerintahannya memusuhi Islam tapi penduduknya tidak memusuhi. Maka sikap kita pun tidak boleh memusuhi penduduk yg simpati kepada kita, tetapi hanya kepada pemerintahannya saja yang jelas memusuhi.

Perihal Darul Harb (negara perang) atau Darus Silm (negara damai) tidak bisa disematkan begitu saja kepada tiap negara mayoritas non muslim. Namun melihat kondisi negara itu terlebih dahulu. Artinya kita sebagai muslim boleh tinggal di manapun meski negara mayoritas non muslim.

Sebab ada sebagian muslim yg ilmunya masih belum sampai menyalahkan muslim lain yg berdomisili di Amerika atau Eropa dengan anggapan pukul rata (generalisir) yang jelas salah bahwa wilayah tadi adalah wilayah kafir tanpa melakukan rincian kafir jenis apa.

Semoga mencerahkan. Jika kepada non muslim saja kita diatur seperti ini oleh syariat, apalagi dengan sesama muslim Meski beda pendapat jangan berteriak teriak atau seminar ke sana kemari soal Piagam Madinah jika tidak paham 50 butir UU dalam Piagam bersejarah itu. Piagam yg mengatur bagaimana cara hidup berdampingan dg non muslim yg hidup damai dengan kita. Jangan suka juga menstempel saudara sendiri dengan kafir, apalagi stempel kafir harbi. Itu malah menunjukkan rendahnya kualitas keislamanmu.

Selamat menikmati hari yg cerah. Moga semakin paham dengan syariat kita yg ramah dan damai dalam segala hal.

 

(Disadur dari kumpulan tweet Gus Awy A Qalwun)