Home > News > Apa yang Membuat Kita Bisa Konsisten dengan Komitmen Kita?

Apa yang Membuat Kita Bisa Konsisten dengan Komitmen Kita?

Pernah gak sih lo ngerasa banyak hal positif yang pengen lo lakukan tapi akhirnya mentok gara-gara semangat lo kendor di tengah jalan? Berapa banyak sih di antara kita yang mau ‘berubah jadi lebih baik’ tapi ujung-ujungnya cuma heboh di mulut & pikiran kita doang?

“Mulai sekarang gua mau rajin belajar!”

“Mulai besok gua mau berhenti merokok!”

“Pokoknya sekarang gua akan fokus nurunin berat badan!”

“Gua sekarang mau serius melatih kemampuan main piano”

Beberapa contoh komitmen yang gua sebut di atas mungkin pernah kita coba untuk lakukan. Pada saat kita betul-betul mendeklarasikan komitmen kita, biasanya kita emang ngerasa SEMANGAT BENERAN untuk memulai suatu perubahan positif. Katakanlah (misalnya) lo bertekad mau serius belajar untuk menghadapi SBMPTN…

Awalnya kita semangat banget untuk ngumpulin bahan belajar dari berbagai sumber, udah gitu fotokopi set latihan soal yang banyak, sampai-sampai bikin jadwal belajar segala macem untuk 7 hari ke depan. Wah, pokoknya perencanaannya udah canggih banget deh! Mulai deh belajar serius hari pertama, hari kedua masih semangat walau gak seheboh hari pertama, eh hari ketiga belajarnya udah nawar-nawar, hari keempat mulai bolos belajarnya karena keasikan main DotA atau keterusan nonton drama korea, hari kelima mulai cari-cari alesan supaya belajarnya besoknya aja, hari keenam eh ada temen ngajak nongkrong jadinya gak belajar lagi, daaan… sampailah akhirnya hari dimana lo melupakan segala tekad dan semangat yang udah lo himpun sejak awal.

Pernah gak sih lo ngerasa mengalami hal seperti itu? Tebakan gua sih hampir semua remaja juga mengalami naik-turunnya semangat belajar, termasuk diri gua sendiri dulu. Sebetulnya konteksnya gak harus selalu untuk belajar untuk ujian ya, gua bikin contoh gitu karena kebanyakan yang baca zenius blog ini adalah pelajar. Tapi apa yang mau gua omongin ini juga bisa relevan dengan banyak hal lain, misalnya tekad untuk rutin berolahraga, berhenti merokok, tekad untuk melatih kemampuan tertentu, dll.

artikel self control

Sekarang kalo dipikir-pikir apa sih yang menyebabkan seseorang tuh cenderung gak konsisten sama tujuannya? Apa sih yang membedakan ada orang yang bisa begitu disiplin dalam berkomitmen dengan orang yang “cuma anget-anget tai ayam” doang? Apa sih yang membedakan mereka yang bisa begitu tekun belajar mati-matian sampai bisa berhasil meraih prestasi akademis yang bisa dibanggakan? Apa yang membuat seseorang bisa betul-betul gigih dengan tujuannya? Apa sih kuncinya supaya bisa seperti itu? Bisa gak sih kita semua seperti mereka yang bisa tetap terus menjaga semangat dalam mencapai tujuannya?

Nah, sebelum gua lanjut bahas pertanyaan-pertanyaan di atas, gua mau ceritain lo tentang sebuah penelitian psikologi populer yang dilakukan oleh psikolog bernama Walter Mischel pada tahun 1960an bernama : “Marsmallow experiment”.

Percobaan ini dilakukan kepada anak-anak TK Bing (usia 4-5 tahun) pada sebuah ruangan di Univ Stanford. Bentuk percobaannya kayak gini: masing-masing anak ditinggalin dalam satu ruangan tertutup tanpa ada TV, majalah, atau apapun yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Pada ruangan tersebut ditaro sebuah marshmallow (nama sejenis snack) di atas meja. Oleh pengawas eksperimen, masing-masing anak tersebut dibilangin :

“kamu bisa makan marshmallow ini sekarang, tapi kalau kamu mau menunggu dan tidak memakannya, kamu akan dapat satu marshmallow lagi.”

Anak-anak itu reaksinya macem-macem, ada yang sabar nunggu sampai 20 menit untuk dapetin 1 marshmallow lagi, ada yang cepet banget nyerah terus langsung makan marshmallow. Ada yang mencoba bertahan beberapa menit tapi akhirnya gak kuat nahan godaan akhirnya makan juga. Nah, buat yang penasaran gimana sih bentuk percobaannya, kamu bisa tonton video percobaan serupa yang dilakukan oleh Dr David Walsh tahun 2009.

Udah nonton videonya? Itulah kurang lebih percobaan yang dilakukan oleh Walter Mischel tahun 1960-70an. Hasil dari percobaan tahun 1960an itu: Dari 600 anak yang mengikuti percobaain ini, sepertiga dari anak-anak tersebut memakan marshmallow dengan segera, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan mendapatkan dua marshmallow dan sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda.

Awalnya percobaan ini cuma bertujuan untuk mengetahui proses mental anak-anak untuk dapat menunda kepuasannya, atau istilah keren psikologinya delay gratification. Proses mental ini juga kita ketahui melalui peribahasa populer:

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Intinya sejauh mana sih seseorang bisa menunda kepuasan sesaat dan bisa bertahan mengontrol dirinya untuk mendapatkan kepuasan yang lebih besar kemudian. Mungkin sejak kecil kita udah sering denger peribahasa ini dan gak sedikit juga yang mikir ini cuman kata-kata bijak sepele orang jaman dulu doang, tapi justru hasil yang mengejutkan dari percobaan ini didapatkan setelah anak-anak yang ikut dalam percobaan beranjak dewasa dan telah masuk SMA.

marshmallow
Salah satu hasil korelasi eksperimen marshmallow.

Beberapa tahun kemudian, Mischel yang memiliki tiga orang anak perempuan yang dulu juga bersekolah di TK Bing, iseng nanyain gimana nilai sekolahan teman-teman anaknya yang dulu sekolah di TK Bing. Dari iseng-iseng nanya ke anaknya ini, Mischel kemudian menyadari bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara anak-anak yang berhasil menunggu dan yang tidak berhasil terhadap nilai akademis mereka. Karena makin penasaran, Mischel mengirimkan kuesioner kepada orang tua, guru dan pembimbing akademis dari anak-anak yang dulu ikut berpartisipasi dalam percobaan ini tahun 1981. Hasilnya sangat mengejutkan karena rupanya hasil test marshmallow itu berkorelasi sangat kuat terhadap variabel lainnya, seperti nilai SAT (semacam test SBMPTN), pencapaian non-akademis, lingkungan pergaulan, kecenderungan perilaku (nakal/nggak), tingkat kebahagiaan, dll.

Percobaan ini akhirnya menjadi populer banget di kalangan psikolog dan beberapa psikolog lagi penasaran untuk mencoba eksperimen hal serupa. Hasil percobaan lain yang serupa ini semakin memperkuat korelasinya terhadap berbagai variabel lain. Para psikolog menyimpulkan bahwa mereka yang berhasil menunggu marshmallow kedua (baca: memiliki kemampuan self control & delay gratification) berhasil mencapai berbagai hal positif dalam perkembangan kehidupan remaja. Sebaliknya mereka yang gak berhasil menunggu (terutama yang cepet nyerah), ternyata cenderung bermasalah dalam kehidupan remajanya, dari yang nilai sekolahnya jelek, sampai ada yang bermasalah dengan drugs, bahkan pada beberapa kasus tindakan kriminal.

Terus apa kesimpulan yang bisa kita ambil dari eksperimen tersebut?

Simpelnya, rupanya salah satu kemampuan yang berperan sangat signifikan terhadap berbagai banyak hal positif dalam kehidupan remaja adalah kemampuan mengontrol diri sendiri (self control) untuk bisa menunda kepuasan (delaying gratification).

PS. Gua ngerasa agak kurang pas untuk menyebut padanan kata Bahasa Indonesia untuk 'self control' dan 'delay gratification' menjadi "mengontrol diri" dan "menunda kepuasan", jadi ke depannya gua akan menyebut 2 istilah itu dengan Bahasa Inggris aja, gpp ya?

Rupanya kemampuan self control ini banyak banget ngaruh ke hal-hal kecil dalam hidup kita (terutama dalam kehidupan remaja), dari mulai masalah kedisiplinan, bisa cepet sadar untuk menghindari pengaruh negatif dari lingkungan, bisa menentukan prioritas dengan bijak, mampu mengendalikan diri dari berbagai hal yang bisa mengalihkan fokus, dsb. Itulah mengapa… anak-anak yang berhasil menunggu marshmallow kedua (baca: memiliki self control yang baik) cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sementara anak-anak yang gak tahan nunggu, cenderung memiliki banyak masalah dalam kehidupan remajanya.

Nah, mungkin sebagian dari lo ada yang kepikiran:

“Wah, berarti kesimpulannya self control itu udah terbentuk dari sejak kecil dong? Berarti kalo gitu mereka-mereka yang makan marshmallow itu (baca: gak punya self control) itu memang ditakdirkan untuk menjadi losser in their life? Sementara mereka yang punya self control itu ditakdirkan untuk jadi orang-orang yang sukses?

Kesimpulannya jangan ditarik ke arah itu ya. Karena sebetulnya justru dengan mengetahui bahwa “SELF CONTROL” itu berperan penting, kita justru bisa melatih kemampuan (self control) itu agar bisa menjadi kunci supaya bisa konsisten terhadap berbagai tujuan positif dalam hidup kita.

Jadi kalo kita balikin lagi ke pertanyaan awal, apa sih yang bisa membuat seseorang konsisten dengan komitmennya? Sekarang gua bisa bilang bahwa SALAH SATU VARIABEL YANG BERKORELASI KUAT terhadap konsistensi pada komitmen adalah SELF CONTROL. Apa yang membuat seorang penderita obesitas bisa disiplin berolahraga & diet ketat sampai akhirnya berat badannya kembali ideal? Self Control. Apa yang membuat seseorang bisa tekun belajar & tahan dengan berbagai godaan untuk nunda-nunda belajar? Self Control lagi. Apa yang membuat seorang yang kecanduan (rokok/narkoba/alkohol) bisa mengurangi ketergantungannya sampai bener-bener bisa lepas dari kecanduannya? Lagi-lagi Self Control.

Bayangkan betapa banyak hal positif yang bisa kita ubah dalam diri kita kalo kita punya self control yang baik? Nah, masalahnya pertanyaannya sekarang adalah:

“Okay, gua tau deh sekarang kalo self control itu penting banget, tapi masalahnya gimana cara ngelatihnya? Emang bisa ya kita melatih self control untuk bisa lebih konsisten dengan komitmen?”

Nah, di artikel ini gua mau ngasih tau lo semua bahwa masih belom terlambat kok untuk melatih self control dalam diri lo! Gimana sih caranya untuk melatih kemampuan self control? Nah, berikut beberapa 3 tips dari gue:

 

1. Buatlah komitmen dengan Mantap

Okay, sebelum ngomongin tentang konsistensi dan self control, pertama-tama yang harus lo lakukan adalah membuat komitmen dan tujuan yang bener dulu. Banyak orang yang mandang sebelah mata tahap pertama ini dan gak dipikirin bener-bener. Padahal menentukan komitmen ini adalah langkah pertama yang penting banget. Kenapa? Karena kalo dari awal komitmennya aja gak dibikin dengan mantap, kita jadi cenderung gak memandang penting komitmen tersebut dan jadi semakin nambah alesan untuk nggak konsisten menjalaninya.

“Ya udahlah bikin komitmen apa susahnya. Tinggal tentuin aja komitmennya mau apa, misalnya: GUA MAU RAJIN BELAJAR. Udah gitu doang kan?”

Bisa aja sih kayak gitu tapi, menurut gua komitmen yang gak jelas tolak ukurnya gitu gak akan mantap untuk dijalani. Nah, terus komitmen yang bagus harusnya kayak gimana dong? Supaya kita bisa konsisten dengan tujuan kita, komitmen yang dibuat juga harus direnungkan bahwa itu adalah hal yang bener-bener kita inginkan. Komitmen itu harus dibuat se-‘sakral’ mungkin supaya secara sadar otak lo ditekankan bahwa you have take it seriously. Luangkan waktu sebentar untuk merenungkan bahwa ini bukanlah hal yang main-main atau iseng doang, kalo perlu lo tulis di kertas tentang segala hal yang mau lo capai, apa kira-kira benefit yang akan lo dapatkan. Trust me, it will help so much if you write it down.

Langkah pertama barusan mungkin kesannya sepele tapi in a way, lo bakal ngerasain bedanya kalo lo luangkan sedikit waktu untuk mendeklarasikan komitmen lo dalam hati secara serius. Nah, setelah itu baru lo desain tujuan lo berdasarkan syarat-syarat berikut ini:

  1. Pastikan komitmen lo ini spesifik, konkrit, dan jelas.
  2. Pastikan komitmen lo ini punya indikator yang bisa diukur.
  3. Pastikan komitmen lo ini bisa diuraikan menjadi aktivitas yang real.
  4. Pastikan lo menentukan target yang wajar untuk dicapai dalam jangka pendek
  5. Pastikan komitmen lo ini dievaluasi dalam jangka waktu yang lo tentukan sendiri.

Nah, 5 point di atas sebetulnya udah pernah diuraikan dengan lebih detail oleh Kak Sasa di artikel zenius sebelumnya. Buat yang penasaran sama artikelnya, bisa baca di sini: “Punya cita-cita keren? Semangat aja gak cukup, lo butuh strategi!”

2. Coba renungkan hal-hal apa aja sih yang bikin lo gak konsisten?

Nah, untuk yang point ini gua gak bisa kasih rumusnya karena masalah setiap orang beda-beda. Tapi pada umumnya, hambatan yang bikin seseorang gak konsisten itu ada 2 jenis:

A. Berhadapan dengan Mental Block

Apaan tuh mental block? Bahasa sederhananya, mental block itu adalah “kumpulan alesan-alesan yang bikin lo males ngerjain hal tertentu.” Lo kerasa gak sih kalo kebiasaan nunda kita gak jarang karena kita males untuk memulai? Sebetulnya mungkin untuk bener-bener ngerjainnya itu gak masalah, tapi ada sesuatu yang menghambat kita untuk sekedar mulai untuk ngerjain hal yang relevan dengan tujuan kita.

Gua kasih contoh satu pengalaman temen kuliah gua dulu. Dulu waktu masih kuliah gua punya satu temen kuliah yang bermasalah dengan obesitas (kelebihan berat badan). Dia sadar bahwa obesitas itu gak sehat, menghambat aktivitas dia, dan bikin dia gak pede dalam penampilan. Kalo urusannya diet, dia bisa lumayan disiplin untuk batesin makanan yang berkalori tinggi. Tapiiii kalo udah urusannya sama olahraga, dia tuh maaleeess banget hanya untuk sekedar mulai olahraga. Wah terus gimana dong?

Nah, rupa-rupanya setelah dia renungkan baik-baiknya, yang bikin dia males olahraganya itu bukan males untuk capek berolahraga. Tapi dia tuh males kalo habis pulang kuliah harus nyetir jauh macet-macetan untuk pergi ke gym terus olahraga cape-capean, udah gitu harus nyetir jauh lagi balik ke rumah.

Akhirnya dia sadar kalo “pergi ke gym” itulah sebetulnya yang menghambat dia untuk berolahraga dan menciptakan mental block dalam pikirannya. Sementara kan sebetulnya berolahraga bukan berarti harus dateng ke gym. Singkat cerita, akhirnya dia merubah mind set dia bahwa olahraga bukan berarti harus dateng ke gym. Dari situ dia mulai konsisten olahraga di rumahnya dan berhasil menurunkan berat badan dengan cukup drastis dalam beberapa bulan.

Itu adalah salah satu contoh bagaimana kita bisa mengatasi mental block dalam mencapai tujuan. Sekali lagi, masing-masing orang beda-beda yah mental block-nya, lo renungkan sendiri apa yang menghambat lo dan harus bisa cari akal sendiri untuk mengatasinya.

B. Perhatian teralihkan oleh distraction

Salah satu hal yang sering menghambat kita untuk bisa konsisten adalah adanya distraction/gangguan yang mengalihkan perhatian kita. Sekali lagi, bentuk distraction orang itu beda-beda. Misalnya, bentuk distraction seorang siswa SMA yang lagi berkomitmen untuk ujian adalah main game dotA, atau bisa juga social media, atau bisa juga distractionnya adalah ajakan temen-temen yang selalu ngajakin nongkrong sampai larut malem, dsb.

Kalo lo pernah baca salah satu catatan perjuangan tutor zenius dalam menempuh SBMPTN, ada satu cerita yang menarik yang gua lihat, yaitu ketika Wisnu memutuskan untuk minjemin bass dia ke temennya selama satu tahun penuh supaya dia bisa fokus dan konsen belajar untuk SBMPTN. Mungkin kita pikir itu tindakan sederhana, tapi Wisnu sendiri pernah bilang bahwa minjemin bass dia setahun penuh ke temennya waktu itu adalah salah satu keputusan krusial yang dia buat sampai akhirnya dia bisa tembus masuk STEI ITB.

“Selama satu tahun itu gue nggak nge-band sama sekali. Bahkan, gue minjemin bass gue ke temen gue selama satu tahun penuh. Soalnya gue tau, kalau ada bass itu di kamar, bawaannya pengen main melulu. Bisa berjam-jam gue main bass, terus nggak belajar.” – Wisnu OPS

eliminate distraction

Menurut gua, pengalaman Wisnu di atas adalah satu satu contoh nyata bagaimana kita bisa bertindak tegas untuk ‘membuang’ distraction. Keputusan Wisnu yang mungkin sederhana (atau radikal?) itulah yang membuat dia bisa membuang distraction yang berpotensi mengganggu konsistensi dia dalam belajar. Nah, sekarang tinggal gimana lo bisa bertindak tegas membuang distraction yang bikin lo gak konsisten sama komitmen lo?

“Sebetulnya gua tau kalo distraction gua itu (misalnya: sosial media). Tapi ya mau gimana lagi, gua gak bisa hidup tanpa sosial media. Terus gimana dong?”

Nah, kalo itu balik lagi masalahnya sampai seberapa besar sih lo menghargai komitmen dan tujuan yang lo capai? Apakah tujuan lo itu memang beneran penting? Seberapa pentingnya tujuan dan komitmen lo itu sampai lo rela mengorbankan hal-hal yang udah jadi kebiasaan lo sehari-hari? Jawabannya ada di dalam diri lo sendiri, dan silakan diputuskan sendiri. 🙂

3. Fokus untuk berkembang secara bertahap. Mulai dari hal yang kecil dulu.

Mencoba merubah diri menjadi lebih baik itu hal yang berat untuk dilakukan, perlu kedisiplinan, konsistensi, dan juga self control yang baik. Masalahnya, seringkali kita mengawali segala bentuk komitmen dengan semangat 45 terus langsung fokus ke hal-hal yang gak realistis, abstrak, ngawang-ngawang, tanpa arah yang jelas. Contohnya nih, kalo lo mau berkomitmen untuk menciptakan group band dan punya cita-cita jadi gitaris terkenal dalam 5 tahun ke depan. Lo jangan belum apa-apa lo langsung ngajak-ngajakin temen-temen bikin band, sibuk bikin lagu ciptaan sendiri, berusaha masuk dapur rekaman buat bikin album sama temen-temen lo. Kalo belum apa-apa lo maksain langsung bersaing ya kualitas lo akan kebanting sama para musisi pro lain yang udah jauh lebih pengalaman.

Daripada lo sibuk dengan upaya sporadis kayak gitu, mendingan lo pastikan dulu kemampuan bermusik lo emang udah bener-bener pantes dulu. Coba lo latihan hal-hal mendasar dalam bermusik dulu, dari pastikan lo lancar baca not balok dulu, cara metik gitar yang bener, pastikan lo menguasai tenik-teknik dasarnya. Jangan main lagu yang itu-itu lagi, jangan masuk ke kunci yang itu-itu lagi. Tantang diri lo keluar dari comfort zone untuk mencoba materi yang lebih sulit. Coba tantang diri lo untuk memulai dengan hal-hal sederhana banget sampai lo gak ada alesan lagi untuk males melakukannya.

Kalo udah keluar dari comfort zone, baru deh lo coba mulai progress bertahap secara konsisten. Misalnya dengan mulai rekaman lo mainin lagu-lagu populer terus diupload ke soundcloud atau ke youtube. Lihat gimana respond dan evaluasi dari orang-orang. Bikin youtube channel lo berkembang, tingkatin populeritas channel lo secara bertahap, dll.

Nah, langkah kayak gitu akan jauh lebih mendukung konsistensi dalam diri lo. Kenapa? Karena dengan memulai langkah-langkah awal yang sederhana dan secara bertahap, lo bisa punya motivasi dan kepercayaan diri untuk terus konsisten dengan komitmen. Coba yuk kita catet apa aja sih hal-hal positif yang kita dapet dengan proses bertahap? Kita coba sesuaikan dengan contoh seperti di atas:

  1. Dengan upload progress lo ke soundcloud/youtube, artinya lo memulai dengan hal-hal sederhana yang emang beneran realistis bisa lo lakukan dengan akses yang terjangkau.
  2. Lo bisa terus ngeliat progress lo seiring dengan bertambah banyaknya sound/video yang lo upload. Dengan melihat progress secara bertahap, lo jadi semakin terpacu untuk terus konsisten karena tanpa sadar create an environment where self-control is consistently rewarded.
  3. Lo mendapatkan constant feedback dan evaluasi dari orang-orang terkait dengan peningkatan performa lo. Terkadang to have someone who expects something from you itu bisa memacu diri lo untuk terus berkembang secara konsisten. Seperti yang gua sempet bahas di artikel blog sebelumnya, untuk bisa meningkatkan kepercayaan diri itu gak bisa instant, tapi harus secara bertahap diiringi bukti pengakuan dari orang lain bahwa lo itu emang pantes untuk layak percaya diri.

****

Okay deh, itulah kurang lebih 3 tips dari gua untuk bisa melatih self control dan memacu kita untuk bisa terus konsisten. Sekian sharing dari gua seputar marshmallow eksperimen, konsistensi, komitmen, delay gratification, dan self control. Terlepas apapun bentuk komitmen positif yang mau lo capai, moga-moga tulisan gua ini bisa berguna buat lo yang punya kesulitan untuk bisa konsisten dengan komitmennya. Nah, kalo ada yang mau cerita pengalamannya dalam berkomitmen dan gimana jatuh-bangun usaha lo sampai bisa konsisten, ceritain juga dong tips-tips elo di kolom komentar bawah artikel ini. Gua harap pembaca artikel blog ini bisa sharing juga satu sama lain dan bisa saling menginsipirasi serta memotivasi. Ok, sampai jumpa di artikel berikutnya!

Sumber Referensi

https://en.wikipedia.org/wiki/Stanford_marshmallow_experiment
http://psycnet.apa.org/journals/psp/21/2/204/
http://www.newyorker.com/magazine/2009/05/18/dont-2
https://www.psychologytoday.com/blog/comfort-cravings/200911/kids-candy-the-marshmallow-test
http://jamesclear.com/good-habits

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *