Home > News > William Tanuwijaya, Mimpi Penjaga Warnet Jadi CEO Tokopedia

William Tanuwijaya, Mimpi Penjaga Warnet Jadi CEO Tokopedia

Dream – Belanja online kini telah menjadi tren bagi sebagian masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, model belanja ini juga tengah digandrungi oleh masyarakat dunia. Kepraktisan menjadi faktor utama belanja model ini begitu digemari.

Banyaknya jumlah pengguna internet di Indonesia menyimpan potensi perputaran uang begitu besar. Potensi ini dipahami betul oleh para pelaku bisnis. Tidak ingin ketinggalan momentum, mereka memanfaatkan internet sebagai media bisnis.

Sayangnya, para pelaku bisnis banyak mengalami kesulitan. Mereka harus beradaptasi dengan ritme pengguna internet yang begitu cepat. Hal ini kemudian ditangkap oleh segelintir orang sebagai peluang. Mereka lalu menghadirkan aplikasi marketplace yang memudahkan para pedagang menjual dagangannya secara online.

Adalah William Tanuwijaya, orang di balik kesuksesan Tokopedia. Market place ini kini tengah digandrungi sebagian besar pengguna internet Indonesia. Selain itu, para pedagang merasa beruntung lantaran bisnis mereka terbantu.

Perjalanan Tokopedia menjadi salah satu startup market place kenamaan asal Indonesia tidaklah berjalan dengan mudah. Sejumlah kendala dan tantangan harus didera seiring perusahaan ini berjalan.

William pun mengisahkan startup ini pernah pula merasakan pengalaman diretas. Tetapi, William mengaku pihaknya tidak melaporkan peretas tersebut ke pihak berwajib. Sebaliknya, kata William, pihaknya justru memberikan hadiah kepada sang peretas lantaran berhasil menunjukkan kelemahan sistem yang digunakan Tokopedia.

Beberapa waktu lalu, sang CEO Tokopedia itu sempat membagi kisah dengan Jurnalis Dream,Arie Dwi Budiawati. Berikut petikan wawancara tersebut.

Mengapa Anda mendirikan Tokopedia? 

Sebenarnya bermula saat masih bekerja forum kafegaul.com. Banyak yang menjadi korban penipuan. Ide awalnya ini masalah keamanan. Ternyata model bisnis e-commerce. Dulu sayaweb designer. Kalau tahun 2007, Bokap kena kanker. Saya kerja kantoran, jadi saya nyambinya. Klien saya itu perusahaan yang buat company profile. Anehnya,tahun 2007 om-om yang jualan kayak di Roxy ingin buat (website) seperti Bhinneka. Bhinneka juga terlihat bagus.

Terus saya tanya, kenapa nggak jualan di sana? Di sana kan sudah ada pembelinya dan traffic-nya. Terus mereka bilang di sana ditelepon ternyata nggak jadi beli, kena tipu, penjual nggak punya tempat yang nyaman untuk mereka. Wah, ini peluang yang besar sekali.

Terus saya meriset, ternyata bentuknya beda-beda. Ada yang bentuknya iklan baris, ada yang bentuknya pasar. Lalu, kami buat tahun 2007. Hanya, pengusaha kan butuh modal dan saya tidak punya modal dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan karena satu-satunya tulang punggung di keluarga. Kalau uang, sih, ada. Ya sudah saya membaca.

Darimana modalnya?

Saya terinspirasi oleh anak-anak muda pendiri Google dan Facebook. Mereka bukan anak konglomerat, tidak punya uang, tapi bisa membuat bisnis. Ternyata di Amerika, dia punya ide, bisa cari pemodal dan banyak angel investor, vendor capital. Dari sana saya melakukan hal yang sama. Tapi, kan, nggak kenal pemodal, nggak punya koneksi. Bos saya itu. Saya dulu kerja di content provider. Saya kerja dari tahun 2005-2007. Saya bilang bos saya, pak, saya kerja di sini tapi tidak pernah pakai produk. Mengapa? Karena ada internet. Mau tahu skor bola, buka livescore. Nggak perlu reg spasi. Nanti internet makin menguat dan generasi jadi berubah. Sama seperti saya yang mencari lewat internet. Lalu ada peluang bangun bisnis sepertimarketplace seperti eBay yang sukses di Amerika Serikat dan di Tiongkok Alibaba. Ayo, kita bangun. Tapi modalnya butuh modal. Beliau baik, sih, beliau kenalin saya sama teman-temannya, yang punya tambang. Dua tahun coba.

Dua tahun, tidak dapat pemodalan. Kalau saya summary, rata-rata orang Indonesia menanyakan track record. Kalau saya investasi, balik modalnya seperti apa. Memang ada orang Indonesia yang sukses dari teknologi? Memang sih ada Detik dan Kaskus yang gede, tapi mereka kan bleeding money. Kalau mereka bangun perusahaan 10 tahun belum untung kan, masak investor kamu harus tunggu 10 tahun baru untung. Susah kan, kita tidak puny Bill Gates. Kalau Nadiem kan enak sudah ada di sana.

Yang kedua, takut akan kompetisi. Indonesia, kan, Negara yang besar. Kamu, kan, mau bikin inovasi baru, mau bikin e-Bay. Tapi, kalau ini berhasil, yang lain tentu akan mau masuk. Bagaimana kamu mau lawan mereka? Karena pertanyaan kedua nggak bisa dijawab, terus tanya pertanyaan pribadi. Marga saya kan cukup keren. Apakah ada hubungan dengan Pak Hary Tanoe? Sayangnya tidak ada. Coba kalau ada. Sudah dari dulu-dulu.

Dari sana, Tanya latar belakang pendidikan juga. Saya lulusan Binus. Saya kenapa deket sama internet karena waktu kuliah saya jadi penjaga warnet. Orang-orang yang 24 jam yang main counter strike. Jadi banyka tuh lowongan orang-orang yang cari kerja buat shift malam. Sudah gratis dibayar pula.

Tokopedia Lahir pada 17 Agustus, Mengapa memilih tanggal itu?

Waktu kita berdiri perusahaannya, kan, Februari 2009. Produknya diluncurkan 17 Agustus 2009. Waktu itu, kan, kita awalnya cari tim itu susah. Buka-bukaan ya. Cari pegawai ke Binus, dua hari nggak ada yang apply. Ya, udah, kita ke supermoderator di kafegaul. Tapi, itu hobi, sih di komunitas, diangkat jadi teman-teman virtual. Dari sanalah jadi banyak teman. Tokopedia itu logo tulisannya itu voting dari beberapa desainer, survei, dilempar ke sana. Merchant-merchantjuga didapat dari sana. Tokopedia sebagai marketplace. Tidak ada penjual tak ada pembeli, tidak ada pembeli tidak ada penjual.

Di awalnya, kami fokus mencari penjual terlebih dahulu. Jualannya lain-lain. Teman-teman nggak punya tempat jualan, jualannya di forum. Ya sudah, jualannya di Tokopedia, di toko sendiri. Mereka senang punya website. Ya, sudah kami bantu. Kami belum berani launching. Nggak ada pembelinya, bakal kabur semua.

Kami ikuti lomba BUBU award untuk jadi juara. Terus kita menang. Itu belum launchingproduknya, tapi sudah mulai diberitakan. Ada komentar negatif, sih, “gimana, nih, website belum dibuka untuk umum, kok, sudah jualan.” Lama-lama 70 penjual di Tokopedia sudah mulai jalan. Hanya, kalau mau beli, ya kontak langsung pembelinya.

Lalu, kami cari moment untuk launching. Justru moment-nya itu datang dari gerakan “Kami Tidak Takut”. Itu bukan terjadi bukan sejak Bom Sarinah, tapi saat tahun 2009 waktu JW Marriot kena bom. Itulah Indonesia United. Itulah. Orang-orang komunitas tahu ada gerakan, pakai kaos “Kami Tidak Takut” . Kami melihat penjual Tokopedia banyak jualan kaos. Makanya kami ajak, dukung deh gerakan Indonesia United. Itu, kan berdekatan dengan Agustus pada kejadiannya. Sekalian launching 17 Agustus. Sekalian yang jualan kaos dicetak dan ditampilkan di halaman pertama dan SEO-nya jadi nomor 1 dari “Kami Tidak Takut”.

SEO dapat, organiknya dapat dan modalnya kecil. Itu berhasil. Lebih menarik lagi efek mulut ke mulutnya. Desainnya beda-beda. Ada yang jualan materinya dulu. “Keren banget, beli di mana?” “Oh, beli di Tokopedia”.

Tahun 2009 sudah memulai jual beli online, padahal sementara sistem belum terbangun matang?

Jadi, itu belum complete. Yang ada iklan baris. Tokobagus sudah ada iklannya. Kaskus masih hot banget. Kalau mau jual online di mana? Kaskus atau Tokobagus. Friendster lagi booming juga. Tapi, kita mainnya di-identify mengapa orang berjualan lewat iklan baris. Orang menggunakan iklan baris untuk berjualan kalau konsumennya tidak bertemu dengan penjualnya.

Saat itu, kami melihat dari kafegaul. Orang mau beli Gundam, banyak komunitas mainan Jepang. Ada yang Rp12 juta dan ada yang beli, main transfer. Tapi, barangnya tidak pernah datang. Dia komplain lah. SMS

Caranya bagaimana?

Ya transfer. Seperti orang jualan di social media, Sekarang juga kejadian, kan? Banyak penjual yang jujur. Nah, yang fight community itu sebenarnya sudah biasa transfer barang dikirim. Kan, mainnya reputasi. Kalau posting sudah banyak, dianggap “nggak kabur”.

Terus kita jadi marketplace pertama. Kita harus bisa menjadi lebih baik dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Sudutnya lebih aman dengan ada rekbernya (rekening bersama) yang dikelola Tokopedia secara profesional. Pembayaran ke Tokopedia dulu. Kalau barang sudah diterima, langsung dibayar ke penjual. Modelnya gitu, Kita buat efisien.

Tokopedia itu sediakan fitur penjual dan pembeli ada track. Jadi, penjual dan pembeli bisa telusuri barang sudah sampai di mana. Bisa dicek. Itu bisa membantu. Penjual juga memiliki kepercayaan. Terus fitur-fitur sederhana.

Ada 23 juta produk dijual lewat Tokopedia. Berapa jumlah merchant di Indonesia?

Merchant di Indonesia itu biasanya online shop. Kalau buka di tokopedia 23 juta lebih. Kayak kemarin, kami ada program baru kerja sama dengan Pak Ridwan Kamil. Jadi, Bandung punya akses khusus di Tokopedia. Kami coba dulu. Pertama, bulan Juni, masyarakat Bandung yang jual produk di Tokopedia ada lebih dari 1 juta produk, tapi masyarakat Bandung beli produk hanya 600 ribu. Mereka lebih produktif untuk jualan secara online.

Menariknya, kalau dibandingkan Jakarta, penjual di Bandung itu punya produk, brand sendiri dan home industry karena itu masih kecil. Kota kreatif. Kita coba empowering local brand. Karena sbagai brand baru di Indonesia itu sangat sulit melakukan penetrasi di pasar offline. Itu masalah terbesar yang dialami brand lokal. Padahal, potensinya besar. Maka dari itu, kami coba ubah. Mereka berjualan online.

Ada contoh sukses penjual Tokopedia?

Kalau yang Fahrudin, dia berkeluarga, kemudian ingin punya kehidupan lebih baik. Dia baca buku tentang jualan online. Dia kalau mau cari penghasilan tambahan harus cari shift. Ketika dia belanja, dia sudah tahu ada alternatif. Dia berbeda dengan orang Bandung yang bisa membuat sepatu, kerajinan. Dia tidak punya keahlian dan modal. Menarik, kan?

Dia jalan-jalan, melihat yang menarik. Ada mainan dari plastic, mobil tentara, pesawat terbang. Difoto-fotoin pake android. Android low end kan bisa dipakai untuk foto. Saya heran pembelinya itu pedagang kulakan di daerah-daerah di mana mereka pergi ke pesawat untuk pergi ke Pasar Gombrong. Ini seperti tukang ojek, tapi bukan tukang ojek yang mengantarkan makanan, tapi Fahrudin ini jadi contact point. Penjual Pasar Gombrong belum melihat peluang itu, mungkin mereka terlalu sibuk. Ini membuat lapangan pekerjaan baru.

Awalnya, kan pekerjaan sampingan. Kalau ada order, pagi-pagi ke pasar, terus kirim. Tabungan bisa ditabung. Lama-lama revenue lebih besar daripada gaji saya? Akhirnya diselami, butuh modal dan dapat kepercayaan. Dia gunakan gudang kecil dan pekerjakan orang. Sekarang dia pekerjakan 4 orang. Itu transformasi bisnis yang cukup singkat. Dalam 1-2 tahun, hidupnya berubah.

Kita ada kerja sama dengan institusi keuangan non bank yang ingin salurkan kur atau pinjaman modal. Ada main bata juga. Kalau ada yang apply, Tokopedia juga bisa berikan predict score history di Tokopedia. Itu sulit sekali dimanipulasi karena itu berasal dari seluruh Indonesia dan siapa yang membeli.

Lembaga pembiayaan mana saja?

Macam-macam. Ada yang dari BRI. Mitra Trooper.

Mengapa memilih nama Nakamaru?

Saya pembaca komik dan saya suka One Piece. One Piece itu ceritanya tentang bajak laut. Saya ini jadi anak kecil yang punya mimpi jadi raja bajak laut. Semuanya ngetawain dan dia pakai kapal kecil. Dalam perjalanan petualangan dia bertemu dengan teman-teman yang punya mimpi yang sama dengan dia. Ada yang pengen jadi koki terbaik di dunia, ada yang mau jadi samurai terbaik di dunia. Pokoknya orang-orang cupu. Tapi mereka berkumpul. Nakama itu sahabat yang lebih dari sahabat, yang punya visi dan misi yang sama, hamper seperti saudara. Kita merekrut orang seperti bajak laut. Siapa yang mau berlayar, ayo. Siapa yang mau cari harta karun bareng, ayo.

Mimpi Seorang Penjaga Warnet

Berapa bayaran yang Anda terima saat jadi penjaga warnet?

Rp10 ribu per hari. Itu buat bayar kos dan makan warteg cukuplah.

Warnet itu tahun berapa?

Tahun 2009. Itu pertama kalinya ada warnet. Terus pengalaman bisnis nggak punya. Bokap nyokap nggak punya. Nyokap ibu rumah tangga. Bokap itu pernah buat usaha, tapi bangkrut. Tapi, yang buat momen hidup itu bertemu satu calon investor yang bilang. Maksud hati memang baik. Sampai sekarang kita sering ngobrol. Dia bilang, “William, kamu masih muda. Muda itu Cuma sekali. Jangan sia-siakan masa muda. Kalau punya mimpi, carilah mimpi yang lebih realistis. Jangan mimpi muluk-muluk seperti pendiri Google dan Facebook yang kamu jadikan row model itu orang-orang yang special. Kamu itu nggak special.”

Itu benar-benar tamparan. Di sanalah mata terbuka. Kalau saya, sih, bilangnya semangat bambu runcing, semangat perjuangan. Semangat bambu runcing itu keberanian. Di Tokopedia itu saya menemukan tujuan hidup saya. Awalnya ingin bangun Tokopedia adalah membangun kepercayaan. Dua tahun setelah membangun Tokopedia, nggak dapat kepercayaan dari siapa pun, termasuk dari investor. Ternyata membangun bisnis itu membangun kepercayaan, termasuk dengan investor dan membangun kepercayaan itu sayang sekali diukur dari masa lalu. Di Tokopedia itu masa lalu bisa diubah dan masa depan ada di tangan masing-masing.

Apa itu semangat Bambu Runcing?

Sebenarnya kalau semangat bambu runcing itu, keberanian dan kegigihan. Berani memulai dan berani jatuh bangun. Setiap terjatuh, harus berani bangun. Yang ketiga itu adalah harapan. Mengapa saya punya harapan? Saya mendengar potensial investor bilang jangan terlalu bermimpi, itu cukup sedih karena Indonesia ini sebenarnya Negara besar. Pendiri Indonesia ini percaya Indonesia bangsa yang besar. Misalnya, Bung Karno bilang, “Bermimpilah setinggi langit. Kalau kau jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Sebelum merdeka saja visinya sudah seperti itu. Sekarang belum sampai 100 tahun merdeka, tapi kita kehilangan kemerdekaan.

Menariknya, kami punya sample 1 juta pebisnis. Mereka yang berhasil punya karakter yang sama, yaitu berani memulai. Tapi, yang berhasil kami wawancara singkat, sesederhana mereka ingin menyekolahkan anaknya lebih tinggi. Dengan harapan itu, kalau dia jatuh, dia mau berusaha lagi. Sesederhana menemukan visi. Tapi ada yang berambisi: saya ingin mengembangkan brand. Nggak apa-apa. Itu hal yang biasa. Pejuang bangsa Indonesia saja berjuang dengan bamboo runcing. Mereka mau berusaha. Mati juga tidak sia-sia.

Mengapa Tokopedia bisa eksis sampai sebesar sekarang?

17 Agustus launching di rumah masing-masing. Ada yang di kantor. 17 Agustus 00.00 website dibuka untuk umum. Dari sana kami sudah yakin. Penjual sudah senang. Mereka juga ngajakin. 70, kalau 70 ngajak temannya, ada toko online baru, saya jalan. Kita belinya online. Itu mengedukasi. Saya lupa tanggal 18-19. Kemudian dari Tempo datang jurnalisnya.

Saya Tanya, bapak tahu dari mana? Saya tidak pernah iklan. Kami baru launching kemarin. Itu pertanyaan jurnalis, transaksi berapa banyak. Terus dari mana bisa tahu? Ada blog. Saya nulis mengapa namanya Tokopedia dan perjalanan cari investor. Jadi dua halaman rubrik di sana. Mal dari online. Masuk ke sana, merchant-merchant banyak ibu rumah tangga. Dia lihat dan jualan produk-produk bayi. Waktu Tanya, dia bilang: saya baca dari majalah.

Setelah jalan, apa masalah yang paling rumit?

Hampir semuanya, sih, orang mau cari pegawai, nggak dapat. Ya, sudah cari pegawai ala bajak laut. Dulu, saya marah banget. Marah banget ke siapa? Ke Steve Jobs. Saya, kan, punya banyak mentor imajiner. Orang-orang yang saya kagumi. Dia bilang, orang kelas A harus rekrut orang kelas A. Sekali kamu rekrut orang kelas B, orang kelas B akan rekrut orang kelas C dan orang kelas C akan rekrut orang kelas D. Tahu-tahu perusahaan kamu akan berisi orang-orang kelas Z. berantakan semua.

Ketika saya mendapatkan modal dan modalnya dari bos saya juga sih, akhirnya tahun 2009 bisa jadi kenyataan. Yang paling baru itu buka booth. Di depan itu ada booth bank, booth SPG. Dua hari ada 1000 orang apply di job fair. Kita kayak nunggu lalat datang. Anak-anak cupu berdiri, belum punya produknya. Makanya kita marah.

Tahun 2010 momentum datang, Yahoo akuisisi Koprol. Kompetisi sudah datang. Competitor pertama kita itu eBay gandeng Telkom launching Plaza.com. Yang di tengah-tengah nggak mungkin menang. Akhirnya belajar saya harus belajar….faktor nggak punya, harus tahu perusahaan internet seperti apa.

Waktu Yahoo akuisisi Koprol, private equity luar mulai kebingungan. Indonesia ada apa nih. Tokobagus mulai bagus di-invest oleh OLX. Mereka mulai cari entrepreneur local. Kesempatan saya bertemu mereka.

Namanya juga orang nggak pernah keluar. Bahasa Inggris saya kan hancur. Bahasa kita bisa, dengar bisa, kalau ngomong hancur, kelihatan banget brokennya, Bisa kelihatanlah orang teknikal banget, Cuma ngabisin waktu. Modal tebal muka saja. Tapi saya harus cari keluar.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Akhirnya, saya bertemu dengan perusahaan Jepang yang tidak begitu besar, tapi mengerti internet. Orang Jepang kan bahasa Inggrisnya pas-pasan, bertemu di tengah. Modal tatapan mata saja bisa telepati. Punya niat nih orang. Dia invest, kan, harus report.

Tapi berubah, sih. Dulu susah nyari orang. Tahun ini ada dua anak Indonesia yang MBA di Harvard. Mereka summary internship. Mereka tanya Tokopedia. Bisa nggak summary internship. Mereka di tokopedia, lagi magang. Lagi dididik jadi Nadiem-Nadiem baru.

Contoh yang nggak pernah kepikiran. Ada web alexa. Nggak kebayang marketplace jadi web terbesar di Indonesia. Sekarang, kan, zamannya aplikasi. Ketika Oktober 2015, jumlah pengguna yang buka aplikasi dapat seminggu, Tokopedia kecil banget. Sementara Lazada kan besar banget, 5 kali lipatnya Lazada. Sekarang saja kita sudah dua kali lipat. Semua orang boleh klaim no. 1 , tapi ini data.

Kalau Jack Ma maunya jadi buaya di Sungai Yang Tse. Kalau kami maunya jadi komodo di Indonesia. Kalau buaya bertarung di samudera dengan hiu, buaya nggak menang. Kalau bertarung di Sungai Yang Tse, buaya yang menang. Sekarang, kan, ada Alibaba masuk, eBay masuk.

Jangan salah sekarang Indonesia ini dikelilingi oleh sungai-sungai yang sudah ada buaya globalisasi dan di samudera ada hiu globalisasi. Kalau di darat, harusnya komodo dong yang jadi raja di daratan. Saya berusaha untuk menjadi komodo.

Saat ini, pesaing yang paling dekat siapa?

Kalau dari aplikasi, itu dekat. kalau Bukalapak dan Lazada itu penggunanya 3 juta orang pengguna aktif seminggu. Kalau kami 6 juta, masih jauh.

Yang menarik, Tokopedia kan gratis? Sampai kapan?

Kami sudah monetize. Keuntungannya sudah didapat dari berbagai sektor. Pertama, biaya berlangganan untuk merchant yang usianya bisnisnya sudah besar. Kedua adalah iklan. Kalau merchant mau iklan 100 ribu, boleh. Nanti kami cari kongsi. ada yang organic dan ada yang berbayar. Kalau diklik, dipotong Rp50 dari saldonya. Yang ketiga, dari data. Data kompilasi yang KUR. Kita bagi hasil dari KUR dari mitra-mitra Tokopedia. Kalau perbankan punya produk baru dan cari adoptional market, Tokopedia yang tepat.

Dana sebesar itu cukup untuk operasional?

Skalanya? Ya tentu sekarang masih berat. Sekarang masih edukasi dan marketingnya juga besar. Walaupun kita dua kali lipat daripada yang lain, marketnya itu masih kecil banget, baru 1 persen orang belanja online.

Tapi potensinya besar?

Potensinya besar. Jadi, lombanya itu mempertahankan posisi nomor satu itu tidaklah mudah.

Modal ventura kan ada dua ya Pak? Sequoia dan Softbanks. Ada lagi yang mau masuk?

Selalu ada yang mau masuk. Tapi, kami cari yang prinsipnya sama. Perusahaan harus tetap di Indonesia. Banyak sekali PT yang kantornya tidak di Indonesia. Tokopedia ada di Indonesia dan bayar pajak juga.

Meyakinkan orang-orang, untuk invest, kan tidak mudah. Jadi, apa yang ditawarkan oleh Tokopedia?

Kalau diancer-ancer, kan, keberuntungan. Kalau saya, sih, serendipity. Hal-hal yang jatuh dalam hidup tanpa direncanakan. Saya bertemu dengan pendiri Softbank, Masayoshi Son. Dia yang bantu Jack Ma. Dia taruh di Alibaba US$20 juta, tapi di Tokopedia US$100 juta, dan di Yahoo US$1 miliar. Saya baru bertemu Masayashi Son di usia 30 saya. Tahun 2011, saya lagi main-main Facebook. Saya pernah baca tentang pidato saat Softbank berusia 30 tahun. Saya nonton videonya tentang 30 tahun ke depan. Umurnya sudah 60 tahun. Saya kira 30 tahun dia udah nggak ada. Saya kagum. Keren, nih, orang. Tapi, masih saya kaget-kaget. 300 ke depan kita mau ngapain. Gila nih orang. Mungkin orang ini mau bikin obat awet muda. Ini yang buat saya kagum, dia mau bikin perusahaan untuk generasi berikutnya, bukan masa hidupnya saja.

Terus 2013, saya diundang dengan entrepreneur Asia bertemu dengannya. Di sana presentasi 5 menit. Diundang ke Tokyo. Undangan cukup jauh, sehingga saya bisa prepare. Satu-satu disuruh presentasi, dari Korea, dari Jepang. Pokoknya dari Negara majulah. Mereka bahasa Inggris agak-agak ahli, tapi teknologinya belum ada di dunia.

Apa yang Anda Presentasi kan?

Saya salah diundang nih. Saya dapat giliran terakhir. Orang-orang bikin bisnis hebat-hebat. Kita bangun bisnis model 1999, ini sudah tahun 2013. Perusahaan-perusahan yang sama model bisnisnya mau jualan apa. Ya sudah saya ceritakan internet ubah hidup saya dari anak kampung bertemu dengan idola. Intinya, hari ini saya bertemu dengan idola saya dan ini adalah pencapaian terbesar dalam hidup. Setelah itu basa basi, dia bilang: William, yang seperti ini, saya invest sama dengan di China. Namanya Jack Ma. Kalau ada kesempatan, saya kenalkan ke Jack Ma.

Tahun 2014, setahun itu dianggurin, akhir September, dapat telepon: William, bisa nggak kamu ketemu Masayayoshi Son tanggal 2 Oktober di Tokyo? Dalam hati, memangnya ada visa gampang? Visa itu urusnya 5 hari kerja dan dikasih waktu 3 hari dan gimana caranya?

Istri saya pacaran dengan saya dua tahun bangun Tokopedia. Kuliah kedokteran lama dan di saat itulah dia lulus. Mungkin dia capek atau bagaimana, (dia bilang): “William, ayolah kita liburan. Kita sudah pacaran 7 tahun tapi tidak pernah libur.” Dia mau ke Jepang. Waktu itu, saya bilangnya nggak. Saya bilang Tokopedia bisnis merah. November uang sudah habis. September tinggal dua bulan. Setelah itu tidak bisa bayar pegawai.

Waktu itu berapa jumlah karyawannya?

70-80 orang. Ya, sudah, saya bilang sudah. Setelah itu saya berpikir, anak orang dipacari 7 tahun. Dilamar kagak, diajak liburan nggak mau. Waktu itu, saya minta izin ke orang tuanya. Ya, orang tuanya boleh. Lalu, saya ke HRD. Tiket hotel, pesawat, dan cincin. Saya sudah pede. Sampai di sana, tanggal 31 September, saya terima telepon dari investor Jepang saya. Lamaran tanggal 1 Oktober. Saya terbang ke sana, tapi beda kota. Lamarannya di Osaka, tapi ketemunya di Tokyo.

Akhir September, dapat telepon: William, bos Seqioa lagi di Indonesia. Bisa, nggak ketemu?” ya, sudah saya bertemu satu jam. Kemudian ditelepon lagi, bisa nggak bertemu lagi? Saya bilang: saya tidak bisa. Sedang perjalanan ke Jepang. Lalu dia tanya, “pesawat kamu mendarat di mana?” Saya bilang: mendarat di Osaka. Pesawat saya mendarat di sana, orangnya udah ada di sana. Kalau seqiola kan investasi di Apple dan Google. Malamnya lamaran, untung bilang ya. Habis (pasangan) happy-happy, sorry harus pergi ke Tokyo.

Seiring dengan perkembangan waktu, investor akan melihat e-commerce berkembang, Strateginya?

Tujuannya menarik investor adalah menciptakan peluang bagi siapa saja. Itu fokusnya ke sana. Enaknya Tokopedia itu bisnisnya berkembang bersama penjual yang lain. Seperti Pak Fahrudin. Kalau bisnisnya besar, kita akan besar. Dia orang yang hebat. Saya dengar dia ke daerah, berbagi semangat, seperti motivator: Keraslah pada hidup, maka hidup akan lunak. Jika lunak pada hidup, maka hidup yang akan keras.

Model bisnis Tokopedia itu kesuksesan orang itu adalah membantu orang lain menjadi sukses. Kalau Pak Fahrudin nggak tumbuh, dia buka toko di Tokopedia, nggak tumbuh, ya, kita juga nggak tumbuh. Kuncinya itu.\

Sempat Merasa Inferior

 

Membaca sedikit riwayat Anda, dari kerja di warnet, pergi malam pulang jam 9 pagi, bahasa Inggris belepotan dan bermain dengan perusahaan kelas atas, apa masih merasa inferior?

Sebenarnya saya di depan anak-anak Tokopedia. Waktu itu saya kumpulin 40 orang. Pribadi saya itu introvert. Ya karena sudah susah bicara. Saya kumpulkan meeting akbar. Banyak yang mau saya katakan. Kalau ketemu William, ngomong diskusinya kecil, banyak ya aaaaa. Karyawan merasa beban besar. Mereka ada yang kasih link artikel bahwa berbicara di depan adalah ketakutan manusia di depan umum. Banyak yang kasih video.

Itu datang dari mereka?

Iya, datang dari staf. Itu jadi budaya kerja. Makanya kami berusaha jadi budaya kerja. Semua orang di Tokopedia harus punya ketulusan berbagi dan rasa ingin tahu seorang murid. Kita berusaha jgua even sama-sama bersama karyawan. Mereka belajar apa pun. Jadi, nggak ada jenjang. Makanya nggak ada bawahan belajar dari atasan, tapi atasan belajar dari bawahan.

Saya senang di Tokopedia itu karena sama-sama belajar. Mengurus lima orang beda kali banget dengan mengurusi 40 orang. Tantangannya beda. Didemolah. Demo GPI. Isyana salah omonglah apa lah.

Didemo soal apa?

Dibayar, sih. Pertama, dia itu masalah belanja di Tokopedia, barangnya nggak dikirim. Uangnya kan nggak hilang. Uangnya di rekber. Salah sendiri nggak Tarik. kemudian dibawa kasus itu ke masalah ras, agama, campur aduk. Ada belakangnya lah. Sampai anak-anak Tokopedia takut.

Waktu itu, berapa Karyawan yang ada?

545

Waktu 17 Agustus nanti masih ada orang-orangnya?

Tahun kedua dan tahun ketiga itu nggak ada. Yang masih ada itu yang penjaga kaskus.

Internet kan trennya berubah-ubah.Seperti tahun ini lebih ke mobile. Kalau prediksi Tokopedia seperti apa?

Kalau kami, satu dekade yang lalu kita bisa bertemu warnet dan wartel di mana-mana. Sekarang warnet dan wartel sudah hilang. Mereka ada di genggaman tangan kita. Dia nggak akan jadi hype sementara, tapi akan permudah kita mencari informasi, mempuermudah jarak dan informasi. Menurut saya kita adalah generasi yang paling beruntung, bisnis tumbuh bersama internet. Generasi perang dan pasca perang, untuk jadi orang sukses itu harus jadi orang yang punya kekuasaan atau konglomerat, kalau orang yang mulai dari nol itu susah sekali. Cara mencaari informasi pun berbeda. Dulu dari radio, sebelum radio juga orang menunggu berita sangat terlambat. Misalnya tetangga kena perang, jarak berapa km kita sudah tahu. Sekarang, artis cerai di ujung dunia pun kita sudah tahu.

Apakah pemerintah kurang mendorong?

Kalau dulu saya orangnya…. Pertama kali ke Amerika diajak Pak Jokowi. Saya menyaksikan mereka beneran kerja. Saya yang kerja pulang malam saja capek gitu. Waktu melihat mereka, catat dan belajar. Bedanya, mereka melibatkan orang muda. Mereka mau mendengarkan. Mereka sadar perubahan itu mulai terjadi akan butuh waktu dan proses. Saya yakin pak jokowi sangat visioner. Digital ini kita tidak boleh menjadi pasar. Tahun 2020, angka ditaruh 130 miliar dolar dan kita harus nikmati kue itu. Itu hebatnya. Kenapa peran pemerintah penting? Karena mereka pernah punya bill Clinton. Tahun 1998 dia pernah keluarin undang-undang. Dulu waktu internet baru lahir seperti Google, Youtube, dan Wikipedia, dulu nggak ada istilah citizen journalism. Internet itu pedang bermata dua, pornografi ada akses ke mana pun, pencemaran nama baik itu bisa dilakukan mudah. Mau tulis apapun bill Clinton di Wikipedia, silakan, peran bill Clinton bisa pilih blokir internet atau atur dengan bagus. Setelah itu, ada kemungkinan pendiri internet bisa ditangkap polisi atau dituntut. Aturan: situs internt itu bisa menggunakan platform dan bisa menggunakan partisipasi public. Jika konten yang bermasalah, maka pemilik situs punya kekebalan, tapi mereka harus buat fitur konten bermasalah. Kalau konten bermasalah tidak ditindaklanjuti, kesalahan user ditransmisi ke pengelola. Bayangkan itu tahun 1998 internet belum jadi, tapi dia bisa bayangkan. Makanya saya punya kesmepatan untuk bertemu dengna orang-orang yang punya visioner.

Sekarang biar bisa bersaing dengan global, Indonesia harus melihat pedang bermata dua seperti apa. Peluangnya jadi nggak dihambat, tidak dimatikan. Jadi intinya. Saya juga nggak ngerti posisi bapak-bapak menteri. Apalagi teknologi kan menantang status quo. Kayak ini (smartphone) kan mematikan wartel dan warnet. Kalau wartel dan warnet demo terus, apakah akan terbendung? Tidak. Mereka akan tetap ada. Jaman berubah dan kita harus menjadi perubahan jamana. Kalau nggak ya kita hilang, mati tenggelam. Masa depan kita nggak tahu seperti apa. Teknologi semakin erat dari hidup.

Semua orang punya mimpi, termasuk Anda. Adakah pesan khusus?

Kalau buat saya, mimpi itu harus bermimpi dengan mata terbuka. Saya belajar dari Luthering. Ada yang bermimpi dengan mata tertutup da nada yang bermimpi dengan mata terbuka. Mimpi yang dengan mata terbyuka itu visioner. Steve Job itu visioner. Bermimpi dengan mata terbuka itu apa yang kamu lakukan, ucapkan, itu harus konsisten. Banyak yang bermimpi, tapi nggak dipikirkan. Harusnya dipikirkan. Tapi ada banyak yang dipikirkan dan dikatakan, tapi nggak dilakukan. Kita tidak pernah tahu masa depan. Saya nggak pernah tahu siapa yang akan berniat gabung dengan Tokopedia, nggak pernah tahu merchant akan tumbuh atau tidak. (Sah)

Sumber: Dream