Home > Publication > Feature > Surat Dari Manchester: Tentang Tragedi Serangan dan Sikap Penduduk Manchester

Surat Dari Manchester: Tentang Tragedi Serangan dan Sikap Penduduk Manchester

Manchester 25 Mei 2017,

CUACA pada Senin siang (22/5) sangatlah menyenangkan. Langit Manchester yang biasanya kelabu, siang itu berwarna biru cerah dengan suhu hangat 21 derajat Celcius. Saya yang selama di Jakarta selalu takut terik matahari, memutuskan belajar di rerumputan depan Gedung Alan Gilbert Learning Commons, bermandikan matahari.
Tidak ada yang aneh siang itu, seperti hari-hari biasa yang saya lalui selama delapan bulan terakhir di Manchester. Saya pulang ke rumah sekitar jam 6 sore dengan bus nomor 143. Tak lupa bertukar senyuman dengan Pak Sopir saat naik dan berucap ‘cheers, Mate!’ [terima kasih, Bro!] saat turun. Setelah menuntaskan makan malam dan berbincang dengan tiga teman serumah yang berasal dari Argentina, saya masuk kamar untuk melanjutkan belajar sekitar jam 23.00 BST.
Dua puluh menit kemudian, tiba-tiba masuk notifikasi berita ke ponsel saya, yang mengabarkan ada ledakan di Manchester Arena. Jantung saya langsung berdegup kencang. Mak tratap, kalau kata orang Jawa. Kami tidak tidur semalaman, berkumpul di ruang tamu memantau berita dari layar televisi.

Esoknya, kami yang biasanya keluar rumah pagi-pagi, memutuskan untuk tinggal di rumah. Sekitar jam 11.30 BST, suasana sedikit mencekam karena suara bising helikopter yang berputar-putar di atas rumah kami. Beredar pesan berantai yang menyebutkan ada ledakan dan penembakan di area rumah kami, Fallowfield. Ternyata, pihak kepolisian sedang menggerebek rumah pelaku bom bunuh diri Salman Abedi yang berjarak 1,4 km dari rumah kami.

Saya memutuskan keluar rumah menuju kampus sekitar jam 13.00 BST dengan bising suara helikopter masih ada di atas kepala. Jalanan sedikit lebih lengang dari biasanya. Bus yang saya naiki juga hanya berisi tiga penumpang, padahal biasanya ramai di jam-jam itu. Untungnya, suasana di kampus masih ramai. Selayaknya pemandangan lazim di musim semi, banyak orang yang berjemur di rerumputan. Ruang belajar bersama dan perpustakaan juga penuh, saya kesulitan mendapatkan kursi untuk belajar. Mungkin karena sedang musim ujian, mahasiswa lebih takut teror nilai jelek dari pada teror bom.

Teror di Manchester sungguh mengangetkan. Beberapa pihak memang memprediksi Manchester akan menjadi target setelah serangan teror di jembatan Westminster pada 22 Maret lalu, karena markas Manchester United dan Manchester City ini merupakan kota terbesar kedua di Inggris. Namun tetap saja rasanya sulit dipercaya ada teror di Manchester. Saya kira kekagetan ini juga dirasakan hampir semua Mancunians–sebutan untuk warga Manchester.

Selama ini, Manchester dikenal sebagai kota multikultural. Sangat mudah menjumpai wajah-wajah Arab, Asia Timur, Afrika, maupun muslimah berjilbab di ruang publik. Berdasarkan sensus 2011, penduduk kulit putih hanya sekitar 59% dari total populasi Manchester. Sisanya merupakan keturunan Pakistan, Afrika, India, China, Bangladesh, Kepulauan Karibia, dan lain-lain.

Ekspresi keberagaman kota yang melahirkan band Oasis ini juga terlihat dari keberadaan Curry Mile, jalan sepanjang hampir 1 kilometer yang menjadi pusat kuliner khas India dan Timur Tengah terbesar di Eropa. Kurang lebih seperti pusat kuliner Jalan Sabang di Jakarta Pusat, namun dengan jalan yang lebih lebar dan lebih teratur. Sensasi India dan Timur Tengah sangat terasa di sana; aroma kari, sisha, dan rancak musik India. Kadang saya lupa sedang berada di Eropa saat menyusuri trotoar Curry Mile.

Toleransi antar umat beragama terjalin dengan sangat baik di Manchester. Muslim yang merupakan minoritas di sini, bisa dengan mudah menemukan tempat ibadah. Kampus kami menyediakan beberapa tempat salat termasuk satu masjid yang cukup representatif. Bahkan, kapel universitas pun menyediakan tempat khusus untuk salat.

Orang Manchester terkenal ramah kepada siapa saja. Berbicara dengan orang asing di bus merupakan hal yang lumrah, pun senyuman dari sopir bus, atau doa ‘bless you’ saat mendengar orang lain bersin. Penduduk lokal juga tidak menganggap imigran sebagai ancaman. Hal ini terbukti dari hasil referendum Brexit, sebanyak 60,4% warga Manchester memilih tetap bersama Uni Eropa.

Setelah serangan teror di Manchester Arena yang menyebabkan 22 orang meninggal dan 59 orang terluka, sempat muncul kekhawatiran tragedi tersebut akan mengubah tatanan hidup dan toleransi di Manchester. Kekhawatiran akan ada eskalasi tindakan rasis kepada kelompok muslim karena dikaitkan dengan agama pelaku teror–padahal terorisme tidak mengenal agama.

Namun, kekhawatiran saya memudar setelah melihat gelombang solidaritas yang ditunjukkan Mancunians. Saat kejadian, warga lokal sigap menawarkan kamar untuk menginap sementara dan penjemputan ke lokasi kejadian untuk para korban yang sebagian besar berusia belasan. Sopir-sopir taksi pun menawarkan tumpangan gratis.

Gelombang pendonor darah untuk para korban yang masih dirawat, yang sampai harus disuruh pulang karena terlalu banyak. Ditambah melihat ribuan orang berkumpul di Albert Square pada Selasa Malam (23/5) untuk memberikan solidaritas kepada korban dan keluarga yang ditinggalkan, kekhawatiran saya nyaris tak bersisa.

Saat saya keluar rumah hari ini pun, saya merasa tidak ada yang berubah dari Manchester. Saya masih menemukan senyuman sopir bus yang membawa saya ke kampus pagi ini. Saya percaya serangan teror di Manchester Arena tidak akan merusak harmoni hidup antar umat bergama yang sudah terjalin baik di Manchester. Sebaliknya, saya optimistis teror ini justru akan semakin menguatkan solidaritas warga Manchester.

Fauzul Muna,

Mahasiswa Master di University of Manchester

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *