Home > Publication > RASANYA BARU KEMARIN (Versi V)

RASANYA BARU KEMARIN (Versi V)

oleh: KH. Ahmad Musthafa Bisri

Rasanya

Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta

Atas nama kita menyiarkan dengan seksama

Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya

Gaung pekik merdeka kita

Masih memantul-mantul tidak hanya

Dari mulut-mulut para jurkam PDI saja. Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah setengah abad lamanya

 

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan yang mulia

Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya

Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha

Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa

Sudah banyak yang turun tahta

 

Taruna-taruna sudah banyak yang jadi

Petinggi negeri

Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi

Sudah banyak yang jadi menteri

 

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah setengah abad lamanya

 

Tokoh-tokoh angkatan 45 sudah banyak yang koma

Tokoh-tokoh angkatan 66 sudah banyak yang terbenam

 

Rasanya

Baru kemarin

 

Letkol Suharto sudah menjadi

Sesepuh negara-negara sahabat

Wartawan Harmoko sudah menjadi

Pengatur suara rakyat

 

Waperdam Subandrio sudah hidup kembali

Menjadi pelajaran bagi setiap penguasa

Engkoh Eddy Tanzil sudah tak berkolusi lagi

Menjadi renungan bagi setiap pengusaha

 

Ibu Dewi sudah kembali

Menjadi penglipur

Buldozer Amir Mahmud kini

Sudah tergusur

 

Oom Liem dan kawan-kawan

Sudah menjadi dewa-dewa kemakmuran

Bang Zainuddin dan rekan-rekan

Sudah menjadi hiburan

 

Pak Domo yang mengerikan

Sudah berubah menggelikan

Bang Ali yang menentukan

Sudah berubah mengasihankan

 

Genduk Megawati yang gemulai

Sudah menjadi pemimpin partai

Ismail Hasan Metarium yang santai

Sudah menjadi politisi piawai

 

Gusti Mangkubumi di Yogya

Sudah menjadi raja dan ketua golongan karya

Gus Shohib yang sepuluh anaknya

Sudah menjadi pahlawan keluarga berencana

 

(Hari ini ingin rasanya

Aku bertanya kepada mereka semua

Bagaimana rasanya

Merdeka?)

 

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah setengah abad kita

Merdeka

 

Jenderal Nasution dan Jenderal Yusuf yang pernah jaya

Sudah menjadi tuna karya

 

Ali Murtopo dan Sudjono Humardani yang sakti

Sudah lama mati

Pak Umar dan pak Darmono yang berdaulat

Sudah kembali menjadi rakyat

 

Pak Mitro dan pak Beni yang perkasa

Sudah tak lagi punya kuasa

 

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah setengah abad kita

Merdeka

 

Kiai Ali dan Gus Yusuf yang agamawan

Sudah menjadi priyayi

Danarto dan Umar Kayam yang seniman

Sudah menjadi kiai

 

Gus Dur dan Cak Nur yang pintar

Sudah berkali-kali mengganti kacamata

Rendra dan Emha yang nakal

Sudah berkali-kali mengganti cerita

 

Goenawan sudah terpojok kesepian

Arief Budiman sudah berdemonstrasi sendirian

Romo Mangun sudah terbakar habis rambutnya

Tardji sudah menjalar-jalar janggutnya

 

(Hari ini ingin rasanya

Aku bertanya kepada mereka semua

Sudahkah kalian

Benar-benar merdeka?)

 

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah setengah abad lamanya

 

Negara sudah semakin kuat

Rakyat sudah semakin terdaulat

 

Rasanya

Baru kemarin

 

Pejuang Marsinah sudah berkali-kali

Kuburnya digali tanpa perkaranya terbongkar

Preman-preman sejati sudah berkali-kali

Diselidiki dan berkas-berkasnya selalu terbakar

 

Rasanya

Baru kemarin

 

Banyak orang pandai sudah semakin linglung

Banyak orang bodoh sudah semakin bingung

Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan

Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

 

Rasanya

Baru kemarin

 

Banyak ulama sudah semakin dekat kepada pejabat

Banyak pejabat sudah semakin erat dengan

konglomerat

Banyak wakil rakyat sudah semakin jauh dari umat

Banyak nurani dan akal budi sudah semakin sekarat

 

(Hari ini ingin rasanya

Aku bertanya kepada mereka semua

Sudahkah kalian benar-benar merdeka?)

 

Rasanya

Baru kemarin

 

Pembangunan ekonomi kita sudah sedemikian laju

Semakin jauh meninggalkan pembangunan akhlak

yang tak kunjung maju

Anak-anak kita sudah semakin mekar tubuhnya

Bapak-bapak kita sudah semakin besar perutnya

 

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah setengah abad kita merdeka

 

Kemajuan sudah menyeret dan mengurai

Pelukan kasih banyak ibu-bapa

Dari anak-anak kandung mereka

Kemakmuran duniawi sudah menutup mata

Banyak saudara terhadap saudaranya

 

Daging sudah lebih tinggi harganya

Dibanding ruh dan jiwa

Tanda gambar sudah lebih besar pengaruhnya

Dari bendera merah putih dan lambang garuda

 

Rasanya

Baru kemarin

Padahal sudah setengah abad kita merdeka

 

Pahlawan-pahlawan idola bangsa

Seperti Pangeran Diponegoro

Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja

Sudah dikalahkan oleh Kesatria Baja

Hitam dan Kura-kura Ninja

 

Rasanya

Baru kemarin

 

Orangtuaku sudah pergi bertapa

Anak-anakku sudah pergi berkelana

Kakakku sudah menjadi politikus

Aku sendiri sudah menjadi tikus

 

(Hari ini setelah setengah abad merdeka

Ingin rasanya aku mengajak kembali

Mereka semua yang kucinta

Mensyukuri lebih dalam lagi

Rahmat kemerdekaan ini

Dengan meretas belenggu tirani

Diri sendiri

Bagi merahmati sesama)

 

Rasanya

Baru kemarin

Ternyata

Sudah setengah abad kita

Merdeka

 

(Ingin rasanya

Aku sekali lagi menguak angkasa

Dengan pekik yang lebih perkasa:

Merdeka!)

11 Agustus 1995