Home > Publication > ORANG KECIL ORANG BESAR

ORANG KECIL ORANG BESAR

oleh: KH. Ahmad Musthafa Bisri

Suatu hari yang cerah

Di dalam rumah yang gerah

Seorang anak yang lugu

Sedang diwejang ayah-ibunya yang lugu

 

Ayahnya berkata:

“Anakku,

Kau sudah pernah menjadi anak kecil

Janganlah kau nanti menjadi orang kecil!”

 

“Orang kecil kecil peranannya

Kecil perolehannya,” tambah si ibu

 

“Ya,” lanjut ayahnya

“Orang kecil sangat kecil bagiannya

Anak kecil masih mendingan

Rengeknya didengarkan

Suaranya diperhitungkan

Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan

Suaranya tak suara.”

 

Sang ibu ikut wanti-wanti:

“Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil

Orang kecil jika jujur ditipu

Jika menipu dijur

Jika bekerja digangguin

Jika mengganggu dikerjain.”

 

Ayah dan ibu berganti-ganti menasehati:

“Ingat, jangan sampai jadi orang kecil

Orang kecil jika ikhlas diperas

Jika diam ditikam

Jika protes dikentes

Jika usil dibedil.”

 

“Orang kecil jika hidup dipersoalkan

Jika mati tak dipersoalkan.”

 

“Lebih baik jadilah orang besar

Bagiannya selalu besar.”

 

“Orang besar jujur-tak jujur makmur

Benar-tak benar dibenarkan

Lalim-tak lalim dibiarkan.”

 

“Orang besar boleh bicara semaunya

Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.”

 

“Orang kecil jujur dibilang tolol

Orang besar tolol dibilang jujur

Orang kecil berani dikata kurangajar

Orang besar kurangajar dikata berani.”

 

“Orang kecil mempertahankan hak

disebut pembikin onar

Orang besar merampas hak

disebut pendekar.”

 

Si anak terus diam tak berkata-kata

Namun dalam dirinya bertanya-tanya:

“Anak kecil bisa menjadi besar

Tapi mungkinkah orang kecil

Menjadi orang besar?”

Besoknya entah sampai kapan

si anak terus mencoret-coret

dinding kalbunya sendiri:

“O  r  a  n  g    k  e  c  i  l  ?  ?  ?

O  r  a  n  g    b  e  s  a  r  !  !  !”

1993