Home > Publication > Opinion > Membandingkan BPUN Dengan Lembaga Bimbel

Membandingkan BPUN Dengan Lembaga Bimbel

Mataair.tv—Menjamurnya bimbingan belajar saat ini memaksa pelajar harus lebih selektif dalam memilihnya. Kwalitas dan harga yang seringkali menjadi pertimbangan setidaknya menjadi salah satu yang perlu diteliti sebelum memutuskan untuk memilih sebagai tempat belajar. Pasalnya sering kali harga dan kwalitas tidak berbanding lurus. Terlebih seringkali kasus lembaga bimbel yang menerapkan taktik menyelesaikan soal tanpa didalami logika dan filosofi dari soal tersebut menjadi berefek pendangkalan. Karena pelajar akan terjebak pada model soal bukan filosofi dan logika soal. Hal ini menjadi salah satu contoh dari sekian deretan catatan kekurangan lembaga bimbel untuk dievaluasi.

Kasus diatas tidak ditemukan di Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN). Menginjak satu dekade, BPUN terus berbenah dengan inovasi konsep KBM dan pengembangan karakter siswa mejadi prioritas utama. Kwalitas BPUN terbukti lebih diganderungi pelajar saat ini dengan semakin banyaknya pendaftar setiap tahunnya. Sehingga dalam menyelamatkan kwalitas BPUN memberlakukan seleksi bagi para peserta.

Hal ini adalah salah satu pembeda dari lembaga bimbingan belajar lainnya. Saat lembaga bimbingan belajar mementingkan kuota siswa didik untuk meraup keuntungan hingga yang terkadang menyampingkan kwalitas. BPUN justru lebih idealis mempertahankan misi utamanya. Hal ini dikarenakan BPUN bukan produk bisnis seperti lembaga bimbel lainnya.

BPUN merupakan program unggulan Mataair Foundation sebagai lembaga filantropi pendidikan. Misi utama dari BPUN ini adalah menjadi “Jembatan” bagi mereka yang kurang mampu namun memiliki mimpi besar dalam mencari ilmu. Orientasi inilah yang menjadian Mataair Foundation terus mendapat dukungan dari berbagai pihak yang memiliki misi yang sama. Khususnya Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia.

Tak kalah penting dari hal diatas adalah konsep BPUN sendiri yang mengadopsi konsep pesantren. Pelajar yang belum sempat mengalami hidup di pesantren selama tiga minggu akan terpusat belajar di pesantren layaknya santri. Output dari konsep ini adalah karakter yang terbangun dalam diri Alumni BPUN yang saat ini telah mencapai 16.000 siswa.

Karakter yang santun, berwawasan global, serta memiliki motivasi tinggi dalam mencari ilmu menjadi pembeda output dari lembaga bimbel lainnya. Saat ini alumni BPUN telah banyak yang sedang meneruskan ke jenjang master baik di dalam negeri maupun diluar negeri.

Tak hanya itu dengan Capacity Building Class yang diberikan setiap minggunya pelajar dibentuk menjadi pribadi yang tangguh dan cinta terhadap bangsa dan negaranya. Sehingga pondasi ini menjadikan para alumni tidak gampang tergoyah dengan paham-paham anti-pancasila dan tidak pula hedonis atau larut dalam budaya baru dari efek globalisasi yang terkadang berefek meninggalkan budaya ketimuran sebagai identitas bangsa.(bib)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *