Home > Publication > Feature > Idul Adha di Selandia Baru

Idul Adha di Selandia Baru

Oleh: Muhammad Rosyid Jazuli*

Lahir dan besar di Indonesia, kita terbiasa dengan suasana Idul Adha yang meriah. Shalat Ied yang ramai dan suara takbir yang bersahut-sahutan. Hari Ied juga merupakan libur kerja atau sekolah sehingga yang merayakan punya waktu untuk bersantai atau bekerja bakti pada penyembelihan hewan kurban. Namun, ceritanya akan berbeda jika kamu tinggal di Selandia Baru.
Saya sedang menempuh studi master di negeri ‘domba’ ini dan baru saya mengikuti perayaan Idul Adha. Di sini waktunya berbeda sehari dengan Indonesia yakni 13 September lalu. Sholat Ied dilaksanakan di beberapa tempat. Saya memilih sholat di Masjid Islamic Center di bilangan Kilbirnie. Bersama istri dan rekan se-flat, kami berangkat ke masjid pukul 7 pagi. Sampai di sana, segera kami mengambil tempat dan menunggu sholat dimulai, yakni pukul 8 pagi. Sambil menunggu, kami mengikuti takbir. Kalau di Indonesia takbir akan sedikit bersautan dengan suara kambing atau sapi, di sini tidak demikian. Adalah illegal menempatkan hewan ternak di tempat umum.
Jadi, sholat Ied bagi saya serasa sholat jumat, hanya waktu dan susunan rukun yang berbeda. Namun hati tentu tetap mantab bahwa ini adalah niat untuk melaksanakan ajaran agama. Dalam khotbahnya, khatib menjelaskan betapa pentingnya meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dalam berjuang. Bagaimanapun konsekuensinya, khatib mengingatkan, kalau kita ikhlas, semua upaya kita jika diniatkan untuk beribadah akan memiliki nilai. Baik sukses maupun gagal ada pelajaran pentingnya.
Usai sholat, tidak seperti di Indonesia, kami langsung kembali ke flat. Tidak ada potong memotong hewan kurban. Kembali ke flat, kehidupan kembali ke sedia kala. Karena hari kerja, jadi tidak ada libur melibur di sini. Saya menuju kampus untuk belajar. Rekan se-flat saya langsung menuju tempat kerja. Suasana kota pun tak ada yang berbeda. Tentu hati sedikit rindu dengan atmosfer perayaan Idul Adha di Indonesia. Tentu kami perlu menyesuaikan situasi di negara tempat tinggal kami sekarang. Namun demikian, Idul Adha tetapkan Idul Adha bagi muslim di mana saja.  Bagaimanapun situasinya, ramai tidaknya, saya tetap menikmati Idul Adha di Selandia Baru ini.
 *Peneliti MataAir Foundation
Penerima Beasiswa
New Zealand Asean Scholarship
Master of Public Policy Victoria
University of Wellington