Home > Publication > Essay > Alumni BPUN DEMAK BELAJAR HYBRID ENGINEERING KE WETLANDS INTERNATIONAL UNTUK PENANGGULANGAN ROB

Alumni BPUN DEMAK BELAJAR HYBRID ENGINEERING KE WETLANDS INTERNATIONAL UNTUK PENANGGULANGAN ROB

Oleh: Afif Luthfi*

Ruangan empuk nan nyaman di ruang wakil Bupati

Selasa, 7 juni 2016, Punokawan dari BPUN Demak mulai kisah perjalanya disini kami Najiyah, Asfi Niam, Aida dan Autad ingin kembali menghadirkan memori perjalanan kami yang dengan iseng autad celetukkan nama ini setelah menerobos serunya trip ke desa Timbulsloko, Kec. Sayung, Demak. Kisah ini kami beri nama “My Kecekan My Adventure”. Diawali dari pendopo Kabupaten Demak menghadiri undangan Wetlands International yang merupakan sebuah lembaga swadaya masyarakat di Indonesia berkantor Pusat di Bogor, Jawa Barat.

Saat pertama kami masuk sungguh sangat luar biasa, ada tiga orang dari Wetlands International sudah menunggu kami. Dua orang berkebangsaan Indonesia Apri susanto Astra dan Eko Budi Priyanto dari Wetlands International Indonesia dan satu orang berkebangsaan Belanda bernama Jan Paul Van Aken dari Kementrian Dalam Negeri Belanda. Acara dibuka dalam ruang rapat Wakil Bupati, acara ini cukup eksklusif karena peserta undangan hanya dari pihak Wakil Bupati dan jajaranya, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, Badan Perencanaan Daerah Demak dan Bagian Pembangunan Demak serta kami dari MataAir Demak.

Apri Susato mengatakan, bahwa tim nya dari Wetlands International datang Ke Demak dalam rangka untuk membantu Demak menanggulangi dan meminimalisir dampak Rob, Abrasi, dan Intrusi air laut di wilayahnya, tim dari Wetlands ke Demak datang atas saran dari Kementrian Kelautan dan Perikanan RI karena wilayah Demak merupakan salah satu dari wilayah yang paling parah terkena Rob dan Abrasi. Upaya yang bisa dilakukan oleh tim dari Wetlands hanyalah mengajak, membantu, dan menyadarkan masyarakat Demak agar sadar bahwa wilayahnya terancam akan hilang tergenang Rob apabila tidak dilakukan upaya bersama semua pihak untuk mencegah efek Rob semakin membesar. LSM yang di Indonesia berkantor di Bogor, Jawa Barat ini mulai membantu permasalahan Rob dan Abrasi di Kabupaten Demak tahun 2013 dengan pailot projeknya di Desa Bedono dan Desa Timbulsloko Sayung, Demak.

Wetlands berupaya untuk menanggulangi abrasi di daerah pantai. Usaha yang dilakukan di Desa Timbulsloko dapat kita contoh, Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat bersama-sama membangun sebuah sturktur perangkap sedimen. struktur sederhana ini hanya terbuat dari bambu-bambu dengan panjang 2,5 meter yang ditancapkan dipinggir laut dan disela sela bambu diberi tumpukan rencek atau carang (sebutan lain untuk ranting dan potongan tanaman) inilah kemudian yang disebut dengan konsep hybrid engineering. Struktur kami bukan untuk menahan gelombang tetapi menahan lumpur agar mengendap sehingga terbentuklah sedimen, dengan munculnya sedimen baru berarti memberikan ruang terhadap mangrove agar tumbuh dan berkembang sehingga mangrove inilah yang menjadi pelindung alami mencegah terjadinya abrasi.

rob2

Kepedulian tentang Lingkungan tidak hanya menjadi milik kelompok penggiat lingkungan, kelompok pencinta, dan pemerintah saja melainkan kesadaran gotong royong, sengkuyungan bareng menjaga tanah dan air Demak merupakan kewajiban seluruh elemen masyarakat peduduk Demak.

Apa yang dilakukan Wetlands International ini seharusnya bisa kita contoh. mereka mengembangkan konsep pembangunan wilayah pesisir dengan menagajak masyarakat untuk ikut serta menjaga lingkungan mereka, melindungi alam dan hidup bersama alam. Ketika alam sudah kita jaga maka niscaya alam juga akan menjaga kita dan memberikan penghasilan untuk kita. Alam akan menjalankan fungsi konservasi maupun fungsi ekonomi.

Desa Bedono dan Timbulsloko Kecamatan Sayung dengan hybrid engineering pembangunan perangkap sedimen ini mendapat penghargaan “Dutch Engineering Award” dari Belanda pada maret 2016 lalu sebagai kosep pembangunan kawasan pesisir paling efektif.  Konsep Building With Nature (BWN) membangun bersama alam adalah sebuah konsep pembangunan kawasan pesisir dengan melibatkan seluruh aspek masarakat dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di alam. BWN terwujud berkat kerjasama antara Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumaha Rakyat, konsorsium ecoshape serta Wetlands International.

Selanjutnya giliran Bapak Wakil Bupati, Joko Susanto menceritakan bahwa pada Tahun 1987 Bapak Wakil Bupati kebetulan pernah menjadi kepala Desa di Desa Surodadi, kecamatan Sayung, tetangga Desa Timbulsloko sehingga beliau juga mengerti bagaimana kondisi daerah Pesisir Demak. Penanaman mangrove, pembangunan sabuk laut, pemecah ombak menjadi program dari PEMDA untuk meminimalisir dampak Rob dan Abrasi.

Dari Kementrian Dalam Negeri Netherland yang diwakili Jan Paul Van Aken menyampaikan bahwa Pemerintah Belanda menawarkan dana hibbah dalam jangka waktu 5 tahun dari tahun 2014-2019 untuk memperbaiki, melindungi dan merehabilitasi daerah yang berhubungan dengan air, baik sumber mata air, danau, sungai dan pesisir. Kabupaten Demak menjadi kawasan di Indonesia yang mendapakan bantuan ini karena Demak merupakan Kabupaten termiskin ke 13 dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, kawasan yang terkena dampak Rob dan Abrasi yang lumayan parah dan kawasan dengan banyak muara sungai sehingga secara aspek sosial dan kelingkungan wilayah ini cocok untuk menjadi pailot projek pembanguan Hybrid engineering dan pembangunan perangkap sedimen.

Permasalahan diwilayah pesisir Demak sangat kompleks, karena itu butuh melibatkan banyak orang, banyak Ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk memperbaiki kawasan Demak. Perlunya keselarasan, konektivitas dan kesinambungan antara pemerintah, masyarakat, swasta dan seluruh aspek untuk ikut memikirkan dan berbuat dalam merehabilitasi kawasan pesisir Demak. Pemerintah Belanda melalui Jan Paul Van Aken berharap dan mendoakan pemerintah Demak agar bisa melakukan perbaikan di daerah pesisir dan daerah yang berada di sekitarnya. Salah satu hal yang penting adalah penyadaran kepada semua pihak. Penerapan yang mereka lakukan adalah bukan untuk menghentikan Rob tetapi untuk meminimalisir adanya Abrasi dan daerah yang Rob. Program yang mereka lakukan sudah diterapkan diberbagai negara lainya telah terbukti efektivitasnya.

Sebuah kisah perjalanan ke Desa Timbulsloko

Kenyamanan ruangan dikantor Wakil Bupati seketika berganti dengan perjalanan kami semua untuk terjun kelapangan. Waktu menunjukan pukul 11.15 WIB saat kami menghidupkan mesin motor menuju Desa Timbulsloko, disana telah dibangun sebuah kontriksi bangunan sederhana perangkap sedimen. Sang surya yang dengan gagahnya berada tepat diatas kepala kami menyertai perjalanan membelah lautan kendaraan dalam jalur terpadat di negeri ini, Ya jalur pantura. Jalan beton, mulus dan besar seketika sirna saat kami berpindah dari jalan nasional ke jalan desa.

rob3

Amazing, inilah kata yang terlontar dari Najiyah, Asfi Niam, Aida dan Autad saat ikut dalam perjalanan meninjau daerah perangkap sedimen di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, kabupaten Demak, pada Selasa 7/6/2016. Amazing jalannya yang  penuh  dengan genangan dan bergelombang, amazing pemandangan rumah yang hampir tenggelam, amazing semangat anak-anak kecil yang masih giat mengaji di mushola-mushola. Perjalanan Edisi Penelusuran pesisir dari Komunitas MataAir Demak kali ini ingin mempelajari fenomena Rob dan Abrasi yang kali ini sering melanda sebagian kawasan di Kabupaten Demak.

Perjalanan melewati genangan air, Jalan Berlobang dan pastinya penuh halangan, rintangan membentang tak menjadi masalah dan beban fikiran itu harus terhenti sejenak karena mobil terhalang timbunan tanah di tengah jalan. Jalan kaki menjadi pilihan dari Pak Apri dan Mr. Jan Paul untuk meneruskan perjalan yang masih kurang 2 kilometeran. Sementara kami dan jajaran dari BAPPEDA dan DINLUTKAN berhenti di mushola untuk beistirahat dan sholat dzuhur. Kami meneruskan perjalanan dengan mengendarai sepeda motor, perjalanan kami lalui dengan ekstrim, serasa adrenalin kami terpacu dengan kondisi jalan yang tidak rata dan penuh air. Seru sekaligus miris dengan apa yang kami rasakan.

Melihat rumah hanya tinggal separuh, banyak rumah yang kemasukan air, halaman rumah penuh air serasa kondisi ini tidak lagi di Demak, padahal inilah kenyataannya. Rakyat pesisir Demakku tenggelam, Rakyat pesisir Demakku akankah tinggal kenangan “Sejenak lamunan ini menyergapku”. Di bulan Ramadhan ini kami tak bisa bayangkan jika mereka harus berhari Raya dalam genangan banjir Rob. Masfufah yang kediamananya di Desa Margolinduk Kecamatan Bonang, merasa bersyukur dengan kondisi lingkungan sekitarnya yang juga terkena banjir Rob. Ketika sore menjelang air mulai datang, halaman sekitar rumahnya perlahan-lahan mulai dipenuhi air asin ini. Menurut penuturan dia, Rob di Desanya baru kali ini masuk sampai kehalaman Rumah.

rob4

Sesampainya di lokasi pembangunan perangkap sedimen kami bertanya-tanya kepada Pak Eko dan Pak Apri tentang cara kerja tiang-tiang bambu dengan diselingi ranting-ranting ini. Ya bangunan sederhana ini bisa mendapatkan penghargaan dari Belanda dan Kementrian Lingkungan Hidup.  Cara kerjanya sederhana ketika air laut pasang membawa material lumpur melewai bangunan ini dan ketika surut bangunan ini akan menahan lumpur dan mengendap didalamnya. Bangunan ini dibuat dengan ukuran 100mx100m. Sejak awal dibangunnya bulan November sampai dengan sekarang, sedimen telah terbentuk dengan ketebalan 70 Cm. Keberhasilan struktur ini bisa kita adaptasi untuk melindungi kawasan pesisir Demak dari terjangan Rob.

 

Banjir Rob besar, ini jawabanya.

Dalam beberapa hari ini wilayah Pantai Utara di Pulau Jawa diserang gelombang tinggi dan banjir Rob. Menurut Yunus S. Swarinoto, Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hal tersebut disebabkan pengaruh astronomi terjadinya bumi, bulan, dan matahari yang berada dalam satu garis lurus (spring tide).  Alhasil, tinggi muka laut menjadi naik, dan muncul gelombang tinggi di laut. Hal ini, dikatakan Yunus, merupakan siklus rutin bulanan yang normal. Namun ini menjadi berbahaya karena bersamaan dengan terjadinya anomali positif tinggi muka air laut di wilayah Indonesia setinggi 15-20 sentimeter. “Kondisi ini memberikan dampak yang menimbulkan kerugian materi di beberapa wilayah, seperti pesisir Jakarta, Pekalongan, Semarang dan sekitarnya,” yang dilansirkan Yunus dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 7 Juni 2016. BMKG memprediksi gelombang dan banjir Rob akan berlangsung selama dua hari ke depan.

Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, wilayah Demak mempunyai pantai sepanjang 34,1 Km, terbentang di 13 desa yaitu desa Sriwulan, Bedono, Timbulsloko dan Surodadi (Kecamatan Sayung), kemudian Desa Tambakbulusan (Kecamatan Karang Tengah), Desa Morodemak, Purworejo dan Desa Betahwalang (Kecamatan Bonang) selanjutnya Desa Wedung, Berahankulon, Berahanwetan, Wedung dan Babalan (Kecamatan Wedung). Sepanjang pantai Demak ditumbuhi vegetasi mangrove seluas sekitar 476 Ha.

Kawasan Demak yang paling berpotensi terkena dampak baik Abrasi, Rob dan Infiltrasi air laut adalah

  1. Kecamatan Sayung,
  2. Kecamatan Karangtengah,
  3. Kecamatan Bonang
  4. Kecamatan Wedung.

Dengan ketinggian permukaan tanah dari permukaan air laut (sudut elevasi) wilayah Kabupaten Demak terletak mulai dari 0 M sampai dengan 100 M.

Kajian Wetlands International menyebutkan kenaikan rata-rata air laut setiap tahun adalah 10 cm dan penurunan tanah rata-rata setiap tahun 4-5 cm. Bisa dibanyangkan dan kita hitung sendiri kira-kira berapa tahun lagi Demak akan tenggelam?, ya kalau dalam hitungan sebagian wilayah Demak akan hilang dalam kurun waktu 20-30 tahun lagi.

Apa yang kita lakukan sekarang adalah sebuah investasi luar biasa yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita nanti untuk bangsa Indonsesia terutama Kabupaten Demak, kapan kita melakukan hal- hal kecil untuk lingkungan kita, untuk tanah dan air kita. Demak tenggelam bukan hal yang mustahil, yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda Demak adalah melakukan penyadaran dan kegiatan langsung untuk mengurangi dampak dari Rob, Abrasi dan Intrusi Air Laut.

 

Jangan sampai Demak tinggal Kenangan. Save pesisir Demak

 

*Alumni BPUN Demak 2013

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta